KONFLIK INTERNAL ORGANISASI
MENURUT AL-QUR'AN SURAT AL-AHZAB AYAT 13
A. Pendahuluan
Manusia merupakan
pendukung utama setiap organisasi. Organisasi dapat terbentuk, karena persamaan
visi dan misi. Organisasi merupakan suatu unit terkoordinasi yang berfungsi untuk
mencapai sasaran tertentu. Perilaku manusia mempengaruhi awal perilaku
organisasi. Perilaku individu itu berbeda-beda dalam sebuah organisasi. Perilaku
organisasi merupakan pembelajaran tentang karakteristik individu di lingkungan
organisasi. Organisasi pasti pernah mengalami konflik. Konflik merupakan bentuk
pertentangan alamiah yang dihasilkan oleh individu atau kelompok yang terlibat
perbedaan sikap.[1]
Konflik
disfungsional merupakan hasil dari buruknya komunikasi antarpribadi. Jika
hubungan komunikasi antarpribadi tidak berjalan dengan baik, maka hubungan
komunikasi dalam skala besar juga tidak berjalan dengan baik. Konflik konstruksi
merupakan konflik yang mendukung kinerja kelompok. Konflik destruktif merupakan
konflik yang mengganggu kinerja kelompok. Seseorang tidak dapat menghindari
konflik. Jika konflik terus menerus dibiarkan, maka konflik akan berpengaruh
terhadap kerja sama yang dilakukan dalam organisasi.
Masalah
sepele dapat menimbulkan sebuah konflik. Pemikiran dan pendirian yang
berbeda-beda dapat menimbulkan konflik. Jika konflik sudah teridenfikasi sejak
awal, maka konflik akan dicarikan langkah penyelesaiannya. Jika organisasi
mampu mengelola konflik dengan baik, maka organisasi dapat berkembang menjadi
lebih produktif. Konflik dibagi menjadi dua, yaitu konflik internal dan konflik
eksternal. Konflik internal merupakan konflik batin.[2] Konflik
internal biasanya disebabkan oleh ketidakcocokan antara anggota dengan anggota
maupun anggota dengan pemimpin. Konflik antara anggota dan anggota biasanya
disebabkan oleh persaingan kerja. Anggota tersebut berusaha saling menjatuhkan.
Konflik antara anggota dengan pemimpin disebabkan oleh perbedaan pendapat. Pemimpin memperlakukan anggotanya
secara tidak adil. Pemimpin tersebut juga membuat aturan yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, organisasi pasti mempunyai
sebuah kebijakan untuk pengendalian konflik. Pengendalian seharusnya dilakukan
untuk meminimalkan terjadinya konflik.
Kebijakan
yang diterapkan pada suatu organisasi mempengaruhi sebuah keberhasilan organisasi.
Konflik dapat mendorong inovasi, kreatifitas, dan adaptasi. Seseorang
menjadikan konflik sebagai pelajaran hidup. Jika seorang pemimpin ingin
memajukan organisasinya, maka ia seharusnya memahami faktor-faktor yang dapat menimbulkan
konflik. Pemahaman tersebut dapat memudahkan tugasnya dalam menyelesaikan
konflik yang terjadi. Pemimpin organisasi diharapkan mampu menguasai manajemen
konflik.
Tulisan ini
ditujukan untuk menggambarkan konflik internal organisasi dari Al-Qur'an surat
Al-Ahzab ayat 13. Metode penelitian dalam makalah ini adalah metode
kepustakaan. Penulis mendapatkan sumber-sumber referensi dari perpustakaan.
Penulis menggunakan enam sumber referensi, yaitu tafsir Ibnu Katsier, tafsir
Al-Mishbah, tafsir Fi Zhilalil Qur'an, tafsir Al-Azhar, tafsir Ringkas, tafsir
Jalalain. Penulisan ini diharapkan dapat menjadi saran atau pesan yang diambil
manfaatnya dalam menghadapi konflik di organisasi.
B. Teori Konflik Internal Organisasi
Organisasi dapat
mencapai sebuah keberhasilan dari hasil perbedaan pandangan. Perbedaan
pandangan tersebut dapat menimbulkan konflik. Perbedaan pandangan juga dapat
menghasilkan solusi yang akan memberikan hasil terbaik.[3] Kreitner
dan Kinicki yang dikutip oleh Wibowo menjelaskan, bahwa konflik merupakan suatu
proses dimana satu pihak merasa kepentingannya telah ditentang atau dipengaruhi
secara negatif oleh pihak lain.[4] Jadi,
konflik adalah proses atau hasil interaksi dimana pihak pertama merasa
kepentingannya sudah ditentang atau dipengaruhi secara negatif oleh pihak
lainnya. Konflik merupakan suatu rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian
antara pihak satu dengan pihak lainnya.
Konflik
memiliki sebuah penyelesaiaan yang dapat menyebabkan perubahan positif dalam
organisasi. Konflik dapat menyebabkan dampak negatif yang serius. Waktu dan
uang merupakan dua macam sumber daya penting yang seringkali dialihkan ke arah
penyelesaian konflik. Konflik dapat menimbulkan beban psikologikal pada anggota
organisasi.[5]
Perkembangan
pandangan konflik dibedakan menjadi tiga kategori. Pertama, The traditional
view of conflict merupakan keyakinan, bahwa konflik adalah suatu kejadian
yang menyakitkan dan harus dihindari. Konflik disfungsional merupakan hasil
dari buruknya komunikasi, kurangnya keterbukaan, dan kegagalan manajer merespon
suatu kebutuhan dan aspirasi kerja. Kedua, the interactionist view of
conflict merupakan keyakinan, bahwa konflik tidak hanya merupakan kekuatan
positif dalam kelompok. Konflik merupakan kebutuhan mutlak bagi kelompok untuk
berkinerja secara efektif. Ketiga, resolution focused view of
conflict merupakan keyakinan, bahwa konflik tidak dapat dihindarkan dalam
organisasi. Artinya, organisasi dapat fokus pada penyelesaian konflik yang
lebih produktif. Metode konstruktif merupakan upaya penyelesaian konflik secara
produktif sehingga pengaruh yang mengganggu organisasi dapat diminimalkan.[6]
Perspektif
konflik ada lima. Pertama, konflik dipandang sebagai sesuatu kejadian yang
buruk. Kedua, optimal conflict (1970-1990) menjelaskan, bahwa
konflik dapat memberikan manfaat untuk organisasi. Ketiga, two types
of conflict (current) merupakan pandangan yang sedang berkembang yang
menggambarkan kemungkinan terjadi constructive conflict dan relationship
conflict. Keempat, constructive conflict merupakan tipe
konflik di mana seseorang memfokuskan diskusi pada sebuah persoalan. Seseorang tersebut
tetap memelihara rasa hormat kepada pihak yang memiliki sudut pandang lain. Kelima,
relationship conflict merupakan tipe konflik di mana seseorang memfokuskan
pada katakteristik individu lain daripada persoalan.[7]
Tipe konflik
dibedakan menjadi tiga. Pertama, personality conflict merupakan
perlawanan antarpersonal yang berdasarkan pada perasaan tidak suka,
ketidaksepakatan personal atau gaya yang berbeda. Kedua, intergroup
conflict merupakan konflik di antara kelompok kerja, tim, dan departemen
yang merupakan tantangan bersama pada efektivitas organisasi. Ketiga, cross-cultural
conflict merupakan konflik yang terjadi karena melakukan bisnis dengan
orang yang berasal dari budaya berbeda. Perbedaan budaya tersebut dapat
menimbulkan konflik dalam organisasi.[8]
Konflik merupakan
suatu kejadian yang tidak terjadi secara mendadak tanpa sebab dan proses.
Konflik melalui tiga tahapan. Pertama, peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, konflik ditandai dengan adanya perasaan
tidak puas dan jengkel terhadap lingkungan organisasi. Seseorang dapat
merasakan adanya gangguan tersebut di waktu-waktu tertentu. Kedua, organisasi
memiliki sebuah tantangan. Artinya, individu akan saling mempertahankan
pendapat dan menyalahkan pihak lain. Anggota organisasi menganggap perbuatan
yang dilakukannya sudah sesuai dengan aturan organisasi. Ketiga, konflik
ditimbulkan oleh sebuah pertentangan. Artinya, individu maupun kelompok
memiliki tujuan untuk menang dan mengalahkan individu atau kelompok lainnya.[9] Proses
konflik dimulai, karena adanya sumber konflik yang menyebabkan timbulnya
presepsi dan emosi konflik. Presepsi dan emosi konflik menjadikan individu
mampu mengambil keputusan dan menilai perilaku dari satu pihak terhadap pihak
lainnya. Pada akhirnya, presepsi dan
emosi akan memengaruhi hasil konflik yang dapat bersifat positif atau negatif.[10]
Sumber konflik
ada enam. Pertama, incompatible goals merupakan perbedaan tujuan.
Organisasi memiliki berbagai macam bagian yang mempunyai tujuan berbeda-beda.
Perbedaan tujuan tersebut dapat menimbulkan konflik. Kedua, differentiation
merupakan perbedaan yang terjadi di antara individu, departemen, dan bagian
lainnya. Perbedaan tersebut berdasarkan pelatihan, nilai-nilai, keyakinan, dan
pengalaman. Ketiga, interdependence merupakan konflik yang
cenderung meningkatkan sebuah tindakan saling ketergantungan. Keempat, scare
resources merupakan langkah sumber daya yang membangkitkan konflik, karena
masing-masing orang atau unit memerlukan sumber daya untuk mengalahkan pihak
lain. Kelima, ambiguous rules merupakan sebuah aturan yang terjadi,
karena ketidakpastian dan dapat meningkatkan resiko mencampuri tujuan pihak
lainnya. Keenam, communication problems merupakan sebuah masalah yang
disebabkan oleh kurangnya komunikasi.[11]
Konflik
memiliki empat macam tipe. Pertama, konflik vertikal merupakan konflik
yang terjadi antara atasan dan bawahan. Kedua,
konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antara anggota dan anggota atau
departemen dan departemen pada tingkatan yang sama. Ketiga, konflik
garis-staf merupakan suatu konflik yang terjadi antara karyawan pemegang
komando dengan pejabat staf. Keempat, konflik peranan merupakan suatu
konflik yang terjadi di saat individu mempunyai peran yang lebih dari satu.[12]
Gaya penanganan
konflik ada lima. Pertama, competing merupakan suatu tindakan
yang harus dilakukan untuk penanganan konflik, yaitu bersifat tegas dan tidak
kooperatif. Kedua, collaborating merupakan penyelesaian perbedaan
pandangan dengan cara berusaha mencari solusi bersama. Ketiga, avoiding
merupakan suatu usaha mengabaikan konflik dan menghindarinya. Keempat, accomodating
merupakan sikap rela berkorban untuk menjaga hubungan dengan cara menempatkan
kepentingan lawan di atas kepentingan sendiri. Kelima, compromising
merupakan keinginan untuk menyerahkan sesuatu dan menerima solusi yang
memberikan kepuasan dari pihak yang berkepentingan.[13]
Oleh karena
itu, pemimpin dalam sebuah organisasi seharusnya mengetahui tentang manajemen
konflik. Manajemen konflik adalah cara yang dilakukan oleh pemimpin untuk
menanggapi sebuah konflik. Manajemen konflik merupakan suatu tindakan yang
berpengaruh untuk anggota organisasi. Manajemen konflik menunjukkan penggunaan
resolusi dan teknik stimulasi untuk mencapai tingkat konflik yang diharapkan.
Teknik manajemen konflik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu conflict-resolution
techniques dan conflict-stimulation technique. Kreitner dan Kinicki yang
dikutip oleh Wibowo berpendapat, bahwa mengelola konflik dilakukan dengan
bagaimana merangsang functional conflict, bagaimana menangani dysfunctional
conflict, dan bagaimana pihak ketiga dapat bertransaksi secara efektif
dengan konflik.[14]
C. Tafsir Surat Al-ahzab Ayat 13
Konflik internal
dalam organisasi digambarkan dalam Q.S. Al Ahzab ayat 13. Q.S. Al Ahzab ayat 13
adalah surat ke 33 dalam Al-Qur'an yang mempunyai arti Dan (ingatlah) ketika
segolongan di antara mereka berkata, "Wahai penduduk Yasrib (Madinah),
tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". Dan sebagian dari mereka
meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata,
"Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)". Dan
rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak
lari[15].
وَاِذْقَالَتْ طَّآ ىفَةٌ مِّنْهُمْ (Dan ketika berkata segolongan mereka), yaitu orang-orang munafik. Munafik
merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Jika seseorang berdusta, maka ia dapat
dikatakan sebagai orang munafik. Munafik
adalah perbuatan yang berpura-pura untuk mengikuti ajaran Islam, tetapi
seseorang tersebut mengingkarinya. Orang munafik adalah seseorang yang masuk ke
dalam agama Islam hanya untuk mengharapkan keuntungan.[16] Orang
munafik selalu menerima dan memberi dengan perasaan yang tidak tulus. Orang
munafik tidak mempunyai sifat rendah hati. Orang munafik merupakan orang yang
lemah imannya.
Munafik ada
dua jenis, yaitu nifaq akbar dan nifaq asghar. Nifaq akbar
adalah suatu tindakan untuk menyembunyikan sebuah keburukan dan menampakkan sebuah
kebaikan. Nifaq asghar merupakan suatu perbuatan buruk, tetapi dalam
hatinya masih ada keimanan kepada Allah.[17] Munafik
dalam amalan memiliki lima pokok perkara. Pertama, seseorang yang sering
berdusta ketika berbicara. Kedua, seseorang yang tidak menepati janji. Ketiga,
jika seseorang berselisih secara berlebihan, maka ia telah melampaui batas. Keempat,
jika seseorang melakukan perjanjian, maka ia melanggarnya. Kelima, seseorang
tersebut sering berkhianat. Jika seseorang semakin sering berbohong, maka ia
semakin dekat dengan kemunafikan. Seseorang dengan mudah mengatakan janji,
tetapi ia sulit untuk menepatinya. Oleh karena itu, umat Islam seharusnya
berhati-hati terhadap orang munafik. Orang munafik adalah orang yang selalu
berusaha mematahkan semangat juang umat Islam, karena ia berkeinginan untuk
membuat kekacauan. Allah akan memasukkan orang munafik dalam neraka.
يَاَهْلَ يَثْرِبَ ("Hai penduduk Yasrib).[18] Yasrib
adalah nama kedua kota Madinah. Kota Yasrib merupakan daerah berpenduduk asli
Suku Aus dan Suku Khazraj.[19] Suku Yatsrib tidak mengenal
persatuan. Suku Yasrib dipimpin oleh kepala suku yang memikirkan untuk kepentingan
sukunya sendiri. Penduduk Yasrib memiliki keyakinan, bahwa Rasulullah akan datang.
Rasulullah berdakwah dengan mendatangi kabilah-kabilah yang sedang melaksanakan
haji di Baitullah. Rasulullah kemudian mempersaudarakan umat Islam di Makkah dan
Madinah berdasarkan ikatan akidah Islamiyah. Rasulullah juga mempersatukan
seluruh penduduk Madinah berdasarkan ikatan sosial politik dan kemanusiaan.
Rasulullah dapat mengubah nama kota Yasrib menjadi kota Madinah.[20]
Kaum munafik menghasut dan berbisik-bisik kepada temannya yang dianggap dapat
dipengaruhinya. Kaum munafik menginginkan, agar umat muslim meninggalkan medan
perang.[21]
لَامُقَامَ لَكُمْ (tidak ada
tempat bagi kalian).[22]
Umat muslim merasa ketakutan, karena kaum munafik terus menyebarkan isu-isu
yang menegangkan.[23]
Perang tersebut merupakan saat-saat ujian yang berat bagi keimanan seseorang. Anggota
organisasi dapat mempengaruhi anggota lainnya. Oleh karena itu, anggota
organisasi tidak boleh mudah terpengaruh oleh anggota organisasi yang buruk. فَارْجِعُوْا (maka kembalilah kalian").[24]
Kaum munafik mengatakan, bahwa lebih baik meninggalkan medan perang. Kaum
munafik menginginkan kembali pada masa yang lama, yaitu Yasrib.[25]
Kaum munafik pun tidak ragu-ragu untuk membuka topeng keburukan dan kejahatan. Ia
mengatakan, bahwa tidak perlu lagi berpura-pura dan bermanis mulut.[26]
Anggota organisasi yang merasa diperlakukan tidak adil akan mempengaruhi
anggota lain untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan. Anggota organisasi
tersebut sudah tidak dapat menahan sebuah perasaan buruknya. Ia melakukan hal
tersebut, karena merasa tidak puas terhadap perlakuan pemimpin organisasi. وَيَسْتَأْذِنُ
فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ النَّبِيَّ (Dan
sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi).[27]
Umat muslim yang terpengaruh oleh perkataan dan ajakan pemimpin-pemimpin
munafik meminta izin untuk kembali pulang.[28]
Ketika seseorang memberikan pengaruh buruk untuk orang lain, maka ia akan
memiliki sikap yang sama dengan kaum munafik. يَقُوْلُوْنَ
اِنَّ بُيُوْتَنَاعَوْرَةٌ (seraya
berkata "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka").[29]
Orang-orang munafik mengatakan, bahwa rumahnya yang berdekatan dengan pangkalan
pasukan musuh tidak ada yang menjaga, sehingga keadaannya sangat
mengkhawatirkan. Ia mengkhawatirkan keluarganya tidak ada yang menjaga dan
takut musuh akan mengambil harta bendanya.[30]
Seseorang yang meminta izin pada saat ia sedang dibutuhkan merupakan suatu
tindakan tercela. وَمَاهِيَ بِعَوْرَةٍاِنْ (Dan rumah-rumah itu sekali-kali
tidak terbuka, tidak lain).[31]
Orang munafik tersebut hanya mengatakan kebohongan. Seseorang yang berdusta
sangat dibenci oleh Allah. Seseorang yang berdusta merupakan orang yang
munafik.
يُّرِيْدُ وْنَ اِلاَّفِرَارًا (mereka hanya hendak lari).[32]
Kaum munafik mengatakan sebuah kebohongan hanya untuk menghindari peperangan.[33]
Kaum munafik menganggap, bahwa tidak ada keuntungan yang akan didapatkan. Jadi,
orang-orang yang melarikan diri tersebut memiliki iman yang lemah. Allah telah
menerangkan hukum-hukum-Nya yang harus diikuti oleh manusia. Allah telah
melimpahkan begitu banyak nikmat kepada umat-Nya. Jika seseorang bersyukur,
maka Allah akan menambah nikmat tersebut.
Suatu riwayat menjelaskan, bahwa umat muslim pada saat
menggali parit menemukan sebuah batu putih yang besar dan keras. Batu tersebut
sulit dipecahkan, sehingga menghalangi penggalian. Rasulullah mengetahuinya dan
langsung membantu untuk memecahkan. Batu tersebut memancarkan sinar yang
menyinari seluruh kota Madinah. Rasulullah yang melihat sinar tersebut langsung
mengucapkan takbir kemenangan. Umat muslim yang hadir ikut mengucapkan takbir.
Rasulullah mengucapkan takbir sebanyak tiga kali.
Batu pertama memancarkan sinar yang terang. Rasulullah
melihat dalam cahaya itu terdapat istana-istana kota Hirah dan Mada'in Kisra
yang gemerlap bagaikan taring-taring anjing. Kota Hirah merupakan Ibukota
kerajaan Hirah. Kerajaan Hirah merupakan kerajaan Arab yang terletak di perbatasan
negeri Arab dengan Persia. Kerajaan Arab didirikan oleh bangsa Arab yang berada
dikawasan itu dengan bantuan bangsa Persia. Kerajaan Hirah ditaklukkan oleh
tentara Islam di bawah pimpinan Khalid dan Walid. Mada'in Kisra atau al-Mada'in
adalah ibukota kerajaan Persia. Al-Mada'in merupakan tempat dimakamkan
Salman Al Farisi ra. Jibril mengatakan, bahwa umat muslim akan menakklukkan
kota-kota tersebut. Batu kedua memancarkan cahaya yang di dalamnya terlihat
istana-istana Kaisar di negeri Romawi yang gemerlapan bagaikan taring-taring
anjing. Jibril menyampaikan, bahwa umat muslim akan menakklukkan negeri Romawi.
Batu ketiga memancarkan sinar yang terang dan terilihat istana-istana di kota San'a
yang gemerlapan bagaikan taring-taring anjing. San'a merupakan Ibukota
Yaman yang pada saat itu sebagai jajahan Persia. Rasulullah mengirimkan surat
kepada Kisra Eparwis yang merupakan raja Persia. Rasulullah memerintahkannya, agar
ia masuk Islam. Kisra merasakan sebuah kemarahan dan surat tersebut
dirobek-robek. Ia memerintahkan Badzam yang merupakan gubernur Persia untuk
menangkap Rasulullah. Pada malam harinya, Rasulullah mengetahui Kisra telah
terbunuh. Jibril mengatakan, bahwa umat muslim akan menakklukkan negeri San'a.
Umat muslim merasakan sebuah kebahagiaan yang luar
biasa. Umat muslim mengucapkan takbir sebagai tanda bersyukur kepada Allah. Kaum
munafik telah mendengarkan berita tersebut. Kaum munafik mencemooh umat muslim.
Kaum munafik mengatakan, bahwa Rasulullah hanya memberikan angan-angan kosong
dan janji palsu. Kaum munafik mengatakan, bahwa tindakan umat muslim yang
menggali parit tersebut, karena ia merasa gentar dan ketakutan. Kaum munafik
juga mengatakan, bahwa umat muslim tidak berani memperlihatkan diri kepada
musuh.[34]
D. Analisis Pembahasan
Konflik internal dalam organisasi digambarkan dalam surat
Al-Ahzab ayat 13. Ayat tersebut menjelaskan, bahwa kaum munafik berusaha
menghasut umat muslim untuk menyerah dalam peperangan. Allah mengingatkan umat muslim
dengan nikmat besar yang telah dilimpahkan kepadanya pada saat perang Khandak. Umat
muslim dikepung oleh pasukan tentara, yaitu
tentara kaum Quraisy, Bani Gatafan, Bani An-Nadir. Umat muslim telah
dikepung oleh tentara selama satu bulan. Allah menghalangi musuh-musuh dengan
tentara malaikat dan angin topan yang sangat dingin dan kencang. Situasi
tersebut menyebabkan kegentaran dan ketakutan dalam hati musuh-musuh. Jadi,
perang Khandak tersebut dimenangkan oleh umat muslim tanpa terjadi pertempuran.
Allah telah mengetahui perjuangan umat muslim untuk menghadapi pertempuran.
Allah hanya ingin menguji ketabahan dan kesabaran umat muslim.[35]
Artinya, bahwa setiap manusia diberikan kenikmatan
yang luar biasa oleh Allah. Organisasi pasti pernah mengalami masa-masa sulit
dalam perjalanannya. Jika organisasi mendapatkan permasalahan, maka Allah akan
memberikan jalan yang mudah untuk organisasi tersebut. Anggota organisasi yang memiliki
niat dalam menjalankan tugas akan terlihat hasilnya, daripada anggota organisasi
yang meremehkan. Seseorang yang merasa diremehkan akan menyimpan sebuah perasaan
tidak suka terhadap orang tersebut. Jika seseorang memiliki perasaan tidak
suka, maka ia akan mengalami sebuah kegelisahan hati. Jadi, seseorang tidak
perlu mengkhawatirkan masalah kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah, agar
kehidupannya berjalan baik sesuai dengan perilaku yang dimilikinya.
Allah mengetahui tentara yang bersekutu tersebut
datang dari bawah lembah sebelah timur. Allah mengetahui kedatangan golongan
yang bersekutu lainnya datang dari atas lembah sebelah barat. Situasi tersebut
menyebabkan umat muslim menjadi ketakutan dan gentar terutama di dalam hati
orang-orang munafik. Kaum munafik menjadi ketakutan, ragu-ragu, dan
berprasangka buruk. Kaum munafik mengira, bahwa umat muslim akan dikalahkan
oleh tentara sekutu, karena jumlah pasukan sekutu yang sangat banyak. Seseorang
yang beriman pasti percaya dengan janji Allah dan Rasulullah yang akan
memenangkan umat muslim dari peperangan. Orang-orang yang beriman itu percaya
dengan adanya pertolongan, kekuasaan, dan kebesaran Allah. Allah menguji umat muslim,
sehingga terlihat orang-orang yang benar-benar beriman dan orang-orang yang
rapuh imannya. Perang Khandak merupakan suatu seleksi untuk umat muslim, agar
terlihat kaum yang benar-benar kawan atau lawan.[36]
Surat Al-Ahzab ayat 13 ini menjelaskan, bahwa anggota
organisasi memiliki sebuah pemikiran yang berbeda. Apabila ada dua orang
manajer dalam organisasi sepakat untuk mengejar tujuan yang sama, tetapi
ternyata salah satu manajer tersebut kurang sepakat, maka dua orang manajer itu
berada dalam situasi konflik.[37]
Konflik internal merupakan suatu perselisihan yang terjadi di dalam sebuah
organisasi. Konflik internal yang terjadi dalam sebuah organisasi akan sangat
berpengaruh terhadap perkembangan dan berjalannya seluruh kegiatan dalam
organisasi.[38] Seseorang
yang menyimpan sebuah kebohongan pasti akan terungkap. Allah mengetahui segala
perbuatan yang dilakukan oleh umat-Nya. Jika anggota organisasi memiliki
perilaku yang buruk, maka organisasi tidak akan berjalan dengan baik sesuai
tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, organisasi pasti memiliki permasalahan
masing-masing. Masalah menjadikan organisasi dapat mengevaluasi dan
meningkatkat kualitas organisasinya.
Suatu riwayat menjelaskan, bahwa ketika umat muslim
menggali parit ditemukan sebuah batu putih yang besar dan keras. Rasulullah
mengatakan, bahwa umat muslim akan menakklukkan kerajaan Persia dan Romawi,
tetapi kenyataannya umat muslim sedang dikepung oleh pasukan sekutu.[39]
Kaum munafik berusaha mempengaruhi umat muslim untuk meninggalkan medan perang.
Jika umat muslim yang dipengaruhi tersebut imannya lemah, maka ia akan meminta
izin untuk kembali pulang. Kaum munafik mengatakan, bahwa rumah-rumahnya dalam
keadaan bahaya. Allah mengetahui, bahwa kaum munafik itu berbohong dan
rumah-rumahnya dalam kondisi aman.
Ayat ini menjelaskan, bahwa ketika organisasi terjadi
ketidaksesuaian dalam pencapaian tujuan, maka organisasi seharusnya segera menyelesaikan,
agar tidak menimbulkan konflik. Konflik dapat menimbulkan beban psikologikal
kepada karyawan. Konflik menyebabkan timbulnya kesulitan untuk mencapai
hubungan yang saling membantu dan saling percaya.[40]
Jika seseorang menyimpan dendam, maka ia akan memiliki pemikiran untuk
menjatuhkan orang lain. Anggota organisasi yang memiliki perasaan buruk akan
berusaha mempengaruhi anggota lain untuk ikut memusuhi pemimpinnya. Seseorang
tersebut menjalankan tugasnya dengan perasaan yang tidak tulus. Anggota organisasi
itu berpura-pura untuk menyukai pemimpinnya, tetapi ia tidak benar-benar
menyukai pemimpinnya. Seseorang tersebut merupakan salah satu anggota
organisasi yang munafik. Perbuatan munafik akan menimbulkan perpecahan antara
anggota dengan pemimpin organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang sering
terjadi sesama karyawan dalam organisasi. Konflik dapat terjadi karena permasalahan
sepele. Jadi, Anggota organisasi
yang sering menimbulkan masalah seharusnya segera dilakukan penyelesaian, agar
organisasi tersebut berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk
seorang pemimpin dalam organisasi mempelajari tentang manajemen konflik.
Allah memberikan cobaan kepada orang-orang munafik. Allah
melemahkan hati dan keyakin orang-orang munafik, sehingga ia tidak sanggup
mengatasi kesukaran-kesukaran yang dihadapi. Kaum munafik merasakan ketakukan
yang menyebabkan pendiriannya goyah. Ketakutan tersebut muncul, karena ia tidak
sedikit pun memiliki keimanan dalam hatinya. Jika kaum munafik berfikir dengan
benar, maka ia akan selamat dalam peperangan.[41]
Artinya, seseorang yang munafik pasti akan terbongkar
dan mendapatkan balasannya. Organisasi pasti memiliki sebuah peraturan yang seharusnya
ditaati oleh anggotanya. Anggota organisasi yang melanggar peraturan akan
mendapatkan punishment sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan. Konflik
dapat terjadi, karena kurangnya komunikasi yang dilakukan oleh semama anggota
atau anggota dengan pemimpin organisasi. Konflik yang sudah terjadi seharusnya
di antisipasi dengan baik dengan sistem yang terstruktur. Konflik dipandang sebagai suatu perilaku
yang buruk, tetapi konflik juga dapat memberikan manfaat bagi organisasi. Jika atasan dengan bawahan tidak
menjaga komunikasi dengan baik, maka ia akan menyebabkan sesuatu yang tidak di
inginkan, seperti mogok kerja dan demo. Jika komunikasi dapat berjalan dengan
baik, maka organisasi akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang
telah disepakati bersama. Model penyelesaian konflik internal seharusnya
dilakukan dengan tepat, sehingga dapat menghasilkan penyelesaian yang tuntas
secara keseluruhan serta efektif dan efisien.
E. Penutup
Organisasi merupakan tempat berkumpul dan saling
berinteraksi satu sama lain, tetapi seiring dengan berjalannya waktu organisasi
pasti pernah mengalami konflik. Konflik merupakan suatu permasalahan yang
muncul secara bertahap dan tidak muncul seketika. Konflik adalah segala macam
interaksi pertentangan antara dua pihak atau lebih. Konflik disebabkan oleh
beberapa sumber konflik, yaitu adanya saling ketergantungan kerja, perbedaan
dalam mencapai tujuan, perbedaan presepsi, dan meningkatnya permintaan akan
spesialis. Organisasi seharusnya mengetahui cara untuk menangani konflik,
sehingga hal itu dapat membawa dampak positif bagi organisasi. Anggota
organisasi dapat menjadikan konflik yang terjadi dalam organisasi sebagai
sebuah pembelajaran. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang
dibawa oleh setiap individu. Konflik dapat terjadi, karena dipicu oleh
perbedaan fisik, kepandaian, pengetahuan, keyakinan dan adat istiadat.
Konflik
dalam suatu organisasi tidak dapat dihindarkan tetapi dapat diminimalisirkan.
Konflik dalam organisasi dapat terjadi antara anggota dengan anggota, anggota
dengan pimpinan, dan pimpinan dengan pimpinan. Konflik merupakan suatu hal yang
tidak selamanya merugikan organisasi. Konflik yang ditata dan dikendalikan
dengan baik dapat berujung pada keuntungan organisasi. Strategi penyelesaian
konflik ada delapan. Pertama, pemecahan masalah. Kedua, tujuan
perluas sumber daya. Ketiga, penghindaran. Keempat, melunakkan. Kelima,
kompromi. Keenam, otoritas. Ketujuh, perubahan. Kedelapan,
mengenal musuh bersama. Perundingan juga merupakan strategi penyelesaian
konflik. Oleh karena itu, pemimpin organisasi seharusnya mampu mengelola
konflik yang terdapat dalam organisasi secara baik. Penyelesaian konflik dilakukan
dengan cara menumbuhkan perilaku baik dalam diri masing-masing. Perilaku yang
harus ditumbuhkan tersebut, yaitu rasa saling menghormati, menghargai dan rasa
toleransi. Sikap yang baik itu dapat menghindarkan seseorang dari permasalahan konflik.
Daftar Pustaka
Fath,
"Sejarah Pergantian Nama Kota Yatsrib Menjadi Madinah", http://www.arrahmah.com/sejarah-pergantian-nama-kota-yatsrib-menjadi-madinah/,
22 Februari 2018
Fulasifah, Nur Anis dan Ari Pradhanawati, "Analisis Konflik
Internal dan Model Penyelesaian Konflik Internal Antar Anggota dan Pengurus
Serikat Pekerja pada PT. Fumira Semarang", Diponegoro Journal Of Social
and Politic., hal 1-6
Hakim, Saifuddin. M. "Mengenal Dua Jenis Nifaq dan Perbuatan Orang
Munafik", https://muslim.or.id/42117-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafiq-bag-1.html,
4 September 2018
Hamka. Tafsir
Al-Azhar Juzu' 21. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1982
Katsier, Ibnu
Katsier. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya: PT Bina Ilmu.
1990
Kemenag. Al-Qur'an
dan Tafsirnya. Jakarta: Widya Cahaya. 2011
Kemenag. Tafsir
Ringkas. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an. 2016
Liliweri, Alo. Prasangka
dan Konflik. Yogyakarta: LKiS Yogyakarta. 2005
Mahalli,
Jalaluddin. Al. Tafsir Jalalain. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an. 2016
Quthb, Sayyid. Tafsir
Fi zhilalil Qur'an. Jakarta: Gema Insani. 2004
Shihab,
Quraish. M. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati. 2002
Wibowo. Perilaku Dalam Organisasi. Depok: PT RajaGrafindo
Persada. 2017)
Winardi, J. Manajemen Perilaku Organisasi. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. 2004
Winardi, J. Manajemen Perilaku Organisasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2004
Zelth, Dedet.
"Proses Terjadinya Konflik Dalam Organisasi", https://dedetzelth.blogspot.com/2014/01/proses-terjadinya-konflik-dalam.html?m=1,
23 Januari 2014
[1] Alo Liliweri, Prasangka
dan Konflik (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005), hal 249
[2] Ibid.
hal 268
[5] J Winardi, Manajemen Perilaku Organisasi (Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2004), hal 388-389
[9] Dedet Zelth,
"Proses Terjadinya Konflik Dalam Organisasi", https://dedetzelth.blogspot.com/2014/01/proses-terjadinya-konflik-dalam.html?m=1,
23 Januari 2014
[11] Ibid.
hal 289
[15] Ibnu Katsier, Terjemah
Singkat Tafsir Ibnu Katsier (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), hal 293
[16] Hamka, Tafsir
Al-Azhar Juzu' 21 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hal 212
[17] M Saifudin Hakim, "Mengenal Dua Jenis Nifaq dan
Perbuatan Orang Munafik", https://muslim.or.id/42117-mengenal-dua-jenis-nifaq-dan-perbuatan-orang-munafiq-bag-1.html,
4 September 2018
[18] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[19] Kemenag, Al-Qur'an
dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal 623
[20] Fath,
"Sejarah Pergantian Nama Kota Yatsrib Menjadi Madinah", http://www.arrahmah.com/sejarah-pergantian-nama-kota-yatsrib-menjadi-madinah/,
22 Februari 2018
[21] Hamka, Tafsir
Al-Azhar Juzu' 21 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hal 213
[22] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[23] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hal 231
[24] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[25] Hamka, Tafsir
Al-Azhar Juzu' 21 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hal 213
[26] Sayyid Quthb, Tafsir
Fi zhilalil Qur'an (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 236
[27] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[28] Hamka, Tafsir
Al-Azhar Juzu' 21 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hal 213
[29] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[30] Sayyid Quthb, Tafsir
Fi zhilalil Qur'an (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 236
[31] Jalaluddin
Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf
Al-Qur'an, 2016), hal 503
[32] Ibid. hal
503
[34] Kemenag, Al-Qur'an
dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal 627
[36] Kemenag, Al-Qur'an
dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal 631
[38] Nur Anis Fulasifah dan Ari Pradhanawati,
"Analisis Konflik Internal dan Model Penyelesaian Konflik Internal Antar
Anggota dan Pengurus Serikat Pekerja pada PT. Fumira Semarang", Diponegoro
Journal Of Social and Politic., hal 1-6
[39] Kemenag, Al-Qur'an
dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal 627
[41] Kemenag, Al-Qur'an
dan Tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal 632
No comments:
Post a Comment