PERILAKU
ORGANISASI DALAM SURAH HUD AYAT 118
Oleh:
Firyal Salsabila Taroid
A.
Pendahuluan.
Tulisan
ini ditujukan untuk menggambarkan perilaku organisasi. Perilaku organisasi merupakan
cara individu bertindak dalam organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari
tingkah laku individu. Perilaku organisasi juga digunakan untuk memahami
persoalan organisasi, sehingga pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku
organisasi menekankan aspek-aspek psikologi. Aspek-aspek psikologi membahas perilaku
individu dalam organisasi. Perilaku organisasi mempengaruhi tercapainya tujuan
organisasi. Perilaku organisasi merupakan komponen penting dalam pencapaian
prestasi. Prestasi dihasilkan melalui kinerja yang baik. Perilaku yang
konsisten dapat mencapai segala sesuatu dengan mudah. Perilaku yang konsisten juga
menjadikan risiko kinerja lebih rendah. Kecerdasan dan akal sehat menghasilkan
perilaku organisasi yang baik. Jika kelompok ingin mencapai tujuan organisasi,
maka ia harus berperilaku menggunakan kecerdasan emosional. Kecerdasan
emosional akan menghasilkan perilaku yang berkualitas. Jika kecerdasan emosional
diterapkan untuk mengelola perilaku, maka ia akan berperilaku yang
menguntungkan bagi organisasi. Perilaku organisasi dipengaruhi oleh perbedaan tingkah laku individu. Perbedaan
tingkah laku dipengaruhi oleh kecerdasan emosional individu. Individu memiliki kepribadian
dan kehidupan sosial yang berbeda. Perbedaan tersebut mempengaruhi individu
dalam mengelola perilaku. Dalam organisasi, setiap individu memiliki karakter
yang berbeda-beda. Perbedaan karakter harus disatukan dalam organisasi. Perselisihan
merupakan faktor perbedaan. Perselisihan sering terjadi dalam perilaku organisasi.
Pemaksaan kehendak juga sering terjadi dalam perilaku organisasi, sehingga
anggota sulit mencapai tujuan organisasi.
Dalam organisasi, perselisihan dapat
dihindari. Perselisihan dapat dihindari dengan dua cara, yaitu menghargai
perbedaan dan menebar kasih sayang. perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tetapi
perbedaan timbul untuk dihargai. Toleransi menimbulkan perilaku organisasi yang
baik. Dalam organisasi, pemimpin tidak bisa memaksakan kehendaknya. Anggota memiliki
hak untuk berpendapat, sehingga anggota tidak selalu bersikap tunduk terhadap
pemimpin. Dalam organisasi, sikap toleransi diperlukan saat pengambilan
keputusan, agar setiap anggota tidak berselisih satu sama lain. Perselisihan
dapat dihindari dengan saling mengalah dan mengerti. Perilaku tersebut
ditimbulkan karena kasih sayang. Kasih sayang menyebabkan anggota organisasi
kompak. Setiap anggota memiliki cara pengimplementasian yang berbeda. Pengimplementasian
disesuaikan dengan tingkat kasih sayang yang dimiliki setiap anggota. Setiap
anggota harus merangkul anggota lain. Setiap anggota harus mengingatkan satu
sama lain. Perselisihan dapat terselesaikan dengan adanya kecerdasan emosional.
Setiap anggota harus menguasai kepribadian dan lingkungan sosial, agar ia dapat
mengelola perilaku dengan baik. Allah Swt memberikan rahmat kepada sebagian
individu. Rahmat Allah Swt diberikan melalui berbagai cara. Rahmat Allah Swt dapat
menghilangkan perselisihan. Orang yang tidak berselisih adalah orang yang
memiliki kasih sayang. Orang yang berselisih adalah orang yang tidak memiliki
kasih sayang. Oleh Karena itu, perselisihan dapat dihindari dengan kasih
sayang.
Permasalahan ini memiliki berbagai
manfaat. Pertama, anggota dapat mengetahui perilaku organisasi yang baik.
Kedua, Keinginan pribadi tidak selalu terpenuhi dalam organisasi. Organisasi dijadikan
sebagai wadah aspirasi. Seluruh anggota berhak memberikan aspirasinya. Apabila
aspirasi yang diberikan oleh anggota berjumlah banyak, maka aspirasi memerlukan
proses penyaringan. Informasi yang valid dibutuhkan dalam proses
penyaringan. Penyaringan menghasilkan keputusan yang baik. Ketiga, individu
memiliki strategi kecerdasan emosional yang baik, sehingga ia dapat berkomunikasi
secara efektif. Ia tidak mudah terbawa emosi, sehingga ia tetap berperilaku
organisasi yang baik. Keempat, Penentuan keputusan yang baik untuk mencapai
tujuan organisasi. Keputusan dihasilkan berdasarkan hasil musyawarah. Kelima,
permasalahan ini dapat memperbaiki perilaku. Keenam, permasalahan ini dapat
digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan
sekitar. Terakhir, permasalahan ini dapat mempelajari sifat dan budaya yang
berbeda di organisasi. Permasalahan ini juga memiliki keunikan. Keunikan dalam
permasalahan ini, yaitu perilaku organisasi dihubungkan dengan Surah Hud ayat
118.
B.
Teori Perilaku Organisasi
Persyaratan yang harus dimiliki oleh cabang ilmu pengetahuan adalah
ia harus memiliki teori. Teori merupakan inti dari ilmu pengetahuan. Teori
merupakan suatu dalil yang terdiri dari konstruk-konstruk. Konstruk-kontruk
harus memiliki definisi yang saling terkait. Teori menggambarkan fenomena.
Teori menjelaskan hubungan antar variabel.[1] Perilaku
organisasi memiliki beberapa teori, di antaranya teori Charles Perrow, teori Ownes, teori wexley, teori
Larry L. Cummings, Teori Joe Kelly, teori Taylor dan teori Max Weber.
Teori Charles Perrow yang dikutip oleh Hersey dan
Paul mengutarakan, bahwa manusia mengalami banyak keluhan dalam bidang
sumber daya manusia. Keluhan yang dirasakan manusia adalah rendahnya kualitas,
rendahnya pendidikan dan sudut pandang yang sempit. Ia cenderung bersikap
menghukum. Hukuman didasarkan pada keyakinan. Ia menyakini, bahwa perintah dan
disiplin dapat menyelesaikan masalah.[2] Organisasi
memiliki sumber daya manusia yang terbatas. Sumber daya manusia yang ada dalam
organisasi adalah jumlah manusia yang dituntut untuk mengelola sesuatu dalam organisasi.
Dalam organisasi, sumber daya manusia memiliki peranan penting. Dalam pengelolaan
organisasi, manajer harus mengetahui keadaan sumber daya manusia yang ada di
organisasi. Jika data sumber daya manusia didapatkan secara lengkap, maka
pengelolaan organisasi dilaksanakan dengan mudah. Dalam organisasi, kualitas
sumber daya manusia mengalami keluhan. Keluhan disebabkan rendahnya kualitas
pendidikan. Pegawai menempuh pendidikan yang berbeda-beda, sehingga kualitas
pendidikan yang diterima juga berbeda-beda. Perbedaan kualitas pendidikan
menyebabkan perbedaan sudut pandang. Jika pegawai memiliki kualitas pendidikan
yang rendah, maka ia memiliki sudut pandang yang sempit.
Rivai dan Veithzal
mengutip teori dari berbagai ahli. Pertama, teori Ownes. Teori Ownes mengutarakan,
bahwa anggota membentuk stuktur dalam organisasi. Pembentukan struktur yang
dilakukan dalam organisasi adalah pembuatan keputusan, cara mengatasi konflik dan
cara memimpin. Di dalam organisasi, peran manusia diarahkan untuk memperbaiki
organisasi. Perbaikan dilakukan dengan pelatihan kinerja anggota. Perbaikan
bisa berupa training. Training dapat menumbuhkan bakat seorang anggota dalam
pekerjaannya. Organisasi tidak terlepas dari kegiatan pemutusan masalah. Pembuatan
keputusan harus didasari beberapa alasan. Jika usulan memiliki alasan yang
kuat, maka usulan dapat dijadikan keputusan. Pegawai diharapkan memiliki
ketrampilan sesuai dengan pekerjaanya. Ketrampilan dapat meningkatkan kualitas
pegawai.[3]
Kedua, teori wexley. teori
wexley mengutarakan, bahwa ia memiliki pola sistem yang baik. Ia memiliki dua
pola sistem, di antaranya open system (sistem terbuka) dan closed
system (sistem tertutup). Pola sistem digunakan untuk transaksi organisasi
dengan lingkungannya. Transaksi dibagi menjadi dua macam, yaitu input
dan output. Transaksi input memiliki beberapa bentuk, di antaranya
bentuk informasi, energi. uang, pegawai, material dan perlengkapan untuk
organisasi. Transaksi output ditentukan dari sifat organisasi.[4]
Teori Larry L. Cummings
menekankan, bahwa perilaku organisasi terdiri dari berbagai cara. Cara yang
ditekankan adalah cara berpikir, cara memahami persoalan-persoalan, dan cara
menjelaskan pemecahan masalah.[5]
Cara-cara tersebut memiliki peran penting dalam organisasi. Cara berpikir
dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu berpikir secara konseptual dan berpikir
secara intuitif. Cara berpikir konseptual dilakukan dengan mencari
hubungan dari berbagai gagasan. Hubungan membentuk pemahaman yang benar dan
menyeluruh. Cara berpikir intuitif dilakukan berdasarkan insting.
Otak memproses informasi lebih banyak.[6] Persoalan
dapat dipahami dengan berbagai cara, di antaranya pemahaman penyebab masalah,
pemahaman dampak masalah dan pemahaman substansi masalah. Jika masalah sudah
dapat dipahami, maka alternatif pemecahan masalah ditemukan.[7]
Thoha Miftah mengutip teori dari berbagai
ahli. Pertama, teori Joe Kelly. Teori Joe Kelly mengutarakan, bahwa interaksi dibutuhkan dengan melakukan hubungan
timbal balik. Hubungan timbal balik dilakukan oleh dua pihak. Perumusan timbal
baik didapatkan dari sifat organisasi. Perumusan dimulai dari awal, seperti cara
organisasi dirintis, tumbuh, dan berkembang, dan pengaruh organisasi terhadap
anggota-anggota sebagai individu, kelompok-kelompok pemilih, organisasi-organisasi
lainnya dan intuisi-intuisi yang lebih besar.[8]
Teori ini juga mempelajari cara organisasi bertahan hidup dalam segala kondisi.
Pandangan ini memperlakukan organisasi sebagai tempat tinggal. Titik berat dari
pemahaman tersebut adalah pada tingkah laku oeganisasi dan perilaku dari anggota-anggota
organisasi mempengaruhi organisasi. Organisasi yang baik yaitu organisasi yang
mampu survive. Lingkungan tidak membatasi ia berkembang. Pelaku
organisasi menjadi tumpuan survive
Kedua, teori Taylor. Teori Taylor mengutarakan,
bahwa perilaku merupakan salah satu komponen dalam suatu mesin produksi yang
besar. Ia bereksperimen menggunakan penelahaan waktu. Unsur waktu
digunakan untuk menetapkan jumlah waktu. Ia mengusulkan penggunaan perencanaan
dan pengawasan dalam perilaku kerja.[9]
Perilaku kerja diawali dengan pembentukan perencanaan. Perencanaan digunakan sebagai
standar pengawasan. Perencanaan berisi target pencapaian. Perencanaan
memberikan gambaran mengenai kegiatan pekerjaan. Perencanaan mendasari
pencapaian tujuan organisasi. Jika organisasi tidak memiliki perencanaan, maka
pengorganisasi tidak berjalan dengan efektif.[10]
Dalam perilaku kerja, pengawasan dapat menjadikan pelaksanaan kerja lebih
efektif. Pelaksanaan kerja dijalankan sesuai prosedur. Sarana didayagunakan
secara efektif. Pengawasan diharapkan dapat mencapai target kinerja. Pengawasan
dijadikan sebagai sarana perbaikan. Evaluasi berbentuk hasil penyimpangan.
Penyimpangan bermulai dari perencanaan awal. Pengawasan harus bersifat komprehatif
dan terbuka. [11]
Taylor menyatakan adanya empat kaidah dasar manajemen. Kaidah dasar manajemen
harus dilakukan oleh semua organisasi. Pertama, pentingnya metode kerja ilmiah
dalam melakukan kerja praktek dalam organisasi. Kedua, perlunya mengadakan
seleksi, pelatihan dan pengembangan pegawai secara ilmiah. Ketiga, pengembangan
ilmu tentang metode kerja, seleksi, latihan dan pengembangan pegawai. Keempat,
pengembangan semangat kerja dan mental, agar suasana kerja tercipta kondusif.[12]
Ketiga, teori Max Weber. Teori Max Weber
menerangkan aspek-aspek perilaku. Aspek-aspek perilaku dapat dilihat dari
penekanan berbagai struktur. Struktur yang ditekankan adalah ketidak percayaan
terhadap kemampuan untuk menciptakan rasionalitas tertentu, mendapatkan
informasi yang baik, dan membuat keputusan yang obyektif. Premis perilakunya
yang nampak menunjukan, bahwa seseorang membutuhkan bantuan untuk mencapai
keputusan yang baik. Jika hubungan kerja, spesialis prosedur dan aturan-aturan
tertata dengan baik, maka keputusan dapat dibuat secara konsisten dan
sistematis. Manajer harus memiliki otoritas tanggung jawab, di antaranya ia
mampu mengendalikan suatu organisasi dan mematuhi prosedur. Weber memiliki
beberapa sifat birokrasi organisasi dalam berperilaku. Sifat-sifat birokrasi
dalam berperilaku, di antaranya adanya pembagian kerja, adanya suatu prosedur
dan aturan-aturan, adanya hubungan kelompok yang impersonalitas, dan
adanya kecakapan dalam promosi serta jabatan. [13]
pembagian kerja harus dibentuk dengan jelas. Setiap pegawai memiliki tugas sesuai
hasil pembangian kerja. Pegawai harus memiliki keahlian sesuai kedudukannya.[14]
Semua teori memiliki identifikasi yang
berbeda. Ia membahas perilaku organisasi, tetapi aspek didalamnya berbeda-beda.
Teori Ownes dan teori Larry L membahas aspek perilaku yang
sama. Keduanya membahas cara pemecahan konflik. Konflik disebabkan sesuatu yang
saling bertentangan. Perilaku saling bergantung dapat menyebabkan konflik.
Konflik juga disebabkan karena perilaku komunikasi. Konflik memiliki dua jenis,
yaitu konflik intrapersonal dan konflik interpersonal. Konflik intrapersonal
disebabkan dirinya sendiri. Kebutuhan yang bersaing menyebabkan konflik
intrapersonal. Konflik interpersonal terjadi dengan orang lain. perbedaan
pendapat dapat mempengaruhi konflik interpersonal. Konflik berdampak buruk
terhadap semua pelaku organisasi. Dalam perilaku organisasi, konflik tidak bisa
dihindari, sehingga pelaku organisasi harus memahami cara pemecahan konflik.
Jika pelaku tidak dapat memahami pemecahan konflik, maka konflik tetap bertahan
dalam organisasi. Konflik berdampak baik dan buruk. Konflik mengakibatkan
peningkatan solidaritas. Konflik juga mangakibatkan rasa dendam.[15]
C.
Penafsiran Surah Hud ayat 118
Surah Hud terdiri dari 123
ayat. Surah Hud diturunkan di Makkah. Ia termasuk surah Makkiyah.
Surah Hud mengisahkan Nabi Hud dan kaumnya. Surah Hud ayat 118 menjelaskan,
bahwa Allah Swt menjadikan manusia berbeda-beda. Perbedaan yang menjadikan
manusia berselisih. Tulisan ini ditafsirkan oleh beberapa kitab tafsir, di antaranya
tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, tafsir ringkas karya kementrian Agama
Republik Indonesia, tafsir Ibnu Kasir karya Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu
Kasir Ad-Dimasyqi, tafsir Al- Maraghiy karya Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, tafsir
Al –Azhar karya Prof. Dr. Hamka, Al-Qur’an dan tafsirnya karya Kementrian Agama
RI, tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, dan tafsir Jalalain karya Imam Jalaludin
Al-Mahalli,
Tafsir Al-Misbah menjelaskan,
bahwa surah Hud ayat 118 terdapat kata لَوْ (law).
Kata law bermakna sekiranya. Dalam firman-Nya, kata sekiranya menunjukan,
bahwa sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Kata law digunakan untuk
sesuatu yang mustahil terjadi. Allah Swt tidak berkehendak menjadikan manusia
sama. Ia tidak menjadikan manusia satu, yakni satu pendapat, satu
kecenderungan, dan satu agama. Jika Allah Swt menjadikan manusia satu, maka ia
tidak memberi kebebasan kepada manusia. Kebebasan yang diberikan, adalah kebebasan
dalam memilih agama dan kepercayaan.
Dalam masyarakat,
perselisihan dan perbedaan dapat menimbulkan kelemahan dan ketegangan. Dalam
kehidupan, perbedaan yang tidak dapat dihindari, adalah ciri dan tabiat
manusia. Ciri dan tabiat manusia dapat menimbulkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan
yang ditimbulkan dari ciri tabiat manusia, adalah kebebasan bertindak, memilih,
dan memilah. Allah Swt memberikan anugerah dalam berbagai bentuk, di antaranya akal
pikirian, potensi baik dan buruk. Manusia menggunakan potensi-potensinya untuk
berselisih. Perselisihan digunakan dalam prinsip-prinsip pokok agama. Orang
yang tidak berselisih adalah orang yang diberi rahmat oleh Allah Swt. Allah Swt
menganugerahkan kemampuan memilah, tetapi kemampuan memilah tidak digunakan
dalam urusan agama. Potensi memilih dan memilah dapat meningkatkan kualitas
manusia. Potensi itu menyebabkan jiwa yang suci dan budi yang luhur. Manusia
dapat terjerumus dalam kesesatan, karena kesesatan disebabkan oleh potensi
memilih dan memilah. Kata أمة (Ummah)
berarti semua kelompok manusia. Kelompok manusia disatukan oleh beberapa
kesamaan, seperti kesamaan agama, kesamaan kebutuhan dan kesamaan tempat.[16]
Tafsir Al-Azhar menjelaskan,
bahwa Allah Swt dapat menghendaki manusia untuk bersatu. Manusia bersikap rukun
atau akur, sehingga perkelahian tidak terjadi antar sesama manusia. Allah Swt
berkehendak lain. Allah Swt menjadikan manusia berbeda-beda. Perselisihan
selalu terjadi kepada manusia. Dalam tafsir ini, penulis menjelaskan perbedaan mengenai
perilaku dan kemampuan. Manusia ditakdirkan memiliki kemampuan yang
berbeda-beda. Manusia memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi ada juga manusia
yang memiliki kecerdasan tingkat rendah. Jika manusia mampu menghadapi
perselisihan, maka ia memiliki kecerdasan yang tinggi. Perbedaan kemampuan
menyebabkan manusia berselisih dalam berbagai persoalan dan pekerjaan. Kemampuan
yang berbeda-beda menimbulkan perilaku yang berbeda-beda. Seseorang memiliki
keahlihan di bidang kesehatan, tetapi ada juga seseorang yang memiliki keahlian
dibidang teknologi. Pemilihan pekerjaan disesuaikan dengan bakatnya. Pemilihan
pekerjaan didorong oleh faktor rezeki. Jika manusia diciptakan sama, maka manusia
tidak memiliki rasa saling melengkapi. Sebagian manusia beranggapan, bahwa
perselisihan merupakan rahmat yang diberikan Allah Swt. Jika Allah Swt memberi
rahmat kepada suatu golongan, maka golongan tersebut memperlihatkan
kesanggupannya dalam bekerja. Sebagian golongan bersifat dengki terhadap
perselisihan. Ia memonopoli dunia untuk kepentingannya. [17].
Tafsir Ibnu Katsir
menjelaskan perbedaan dalam masalah agama dan aqidah. Manusia terbagi dalam
berbagai mazhab dan pendapat. Ikrimah mengatakan, bahwa perselisihan diakibatkan
masalah petunjuk. Al-Hasan Al-Bisri mengatakan, bahwa perselisihan diakibatkan
oleh masalah rezeki. Sebelum Rasulullah datang, umat manusia berselisih dalam masalah
petunjuk. Setelah Rasulullah datang, sebagian manusia mengikuti Rasulullah. Ia
membenarkan perilaku dan perkataan Rasulullah. Ia membantu Rasulullah
memperjuangkan islam. Ia termasuk golongan yang beruntung. Ia meraih
kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia termasuk golongan yang terselamatkan. Qatadah
mengatakan, bahwa orang-orang yang dirahmati Allah adalah ahlul jama’ah. Negeri
ahlul jama’ah berpencar-pencar, tetapi ia tidak berselisih. Tawus berkata, bahwa Allah Swt tidak
menciptakan manusia, agar ia berselisih pendapat. Allah Swt menciptakan
manusia, agar ia bersatu dan dirahmati. Allah membagi dua golongan, yaitu
golongan yang diberi rahmat, dan golongan yang tidak diberi rahmat. Golongan
yang diberi rahmat dimasukan ke dalam surga. Golongan yang tidak diberi rahmat
masuk ke neraka sa’ir.[18]
Tafsir Al-Maraghiy
menjelaskan faktor manusia berpaling dari agamanya. Allah swt mejadikan manusia
berbeda agama. Manusia berpaling dari agamanya. Ia mengikuti nalurinya. Allah
Swt menciptakan manusia dengan satu tujuan. Tujuannya yaitu manusia menjadi
makhluk yang berusaha. Ia tidak sekedar dituntun dengan ilham. Ia bertindak
sesuai pikirannya. Allah Swt menjadikan manusia berbeda dalam bakat dan
memperoleh ilmu. Dalam tafsir ini, penulis menggunakan perumpamaan lebah dan
semut. Keduanya memiliki prinsip yang sama. Manusia memiliki kodrat yang
berbeda. Ia dijadikan berbeda-beda. Pada periode pertama, kehidupan manusia tidak
mengalami perbedaan. Kehidupan manusia mengalami peningkatan, sehingga
kebutuhan mengalami penuntutan. Penuntutan kebutuhan mengakibatkan timbul
perselisihan. Manusia berselisih dalam urusan duniawi. Orang yang diberi rahmat
berpegang teguh kepada hukum kitab-Nya. Kitab Allah Swt dijadikan poros
kesatuan umat. Allah Swt menciptakan perselisihan, agar terjadi perbedaan
mengenai ilmu pengetahuan dan pendapat masing-masing.[19]
Tafsir Fii Zhilalil Qur’an
menjelaskan, bahwa Allah menciptakan perbedaan sesuai dengan tabiat manusia.
Allah memberikan kemampuan kepada manusia. Kemampuan untuk memilih jalan
hidupnya dengan konsekuensinya. Pilihan manusia menentukan hasil. Hasilnya
berupa petunjuk atau kesesatan. Pilihan keduanya sama-sama bertindak sesuai
sunnah-Nya. Allah Swt berkehendak, agar manusia memilih kebebasan. Kebebasan dapat
menimbulkan balasan. Allah Swt memberi balasan berupa surga dan neraka. Allah
Swt berkehendak agar manusia tidak menjadi umat yang satu. Sehingga, manusia
memiliki konsekuensi yang berbeda-beda.[20]
Kitab Al-Qur’an dan tafsirnya
menjelaskan, bahwa perselisihan diakibatkan perbedaan kebutuhan. Manusia mampu
berkembang biak. Perkembang biakan membutuhkan waktu. Efesiensi waktu dapat
menyebabkan perbedaan keperluan. Keperluan mengalami peningkatan. Keinginan
manusia juga mengalami peningkatan. Jika umur manusia semakin tua, maka sesuatu
yang diinginkan semakin banyak. Peningkatan keinginan dan keperluan menimbulkan
perselisihan. Jika perselisihan tidak segera diatasi, maka perselisihan tetap
terjadi dalam organisasi.[21]
Tafsir jalalain menerangkan
secara umum. Allah Swt menjadikan perbedaan dalam masalah agama. Manusia diberi
kebebasan beragama. Manusia dibekali
akal. Penentuan agama dipengaruhi oleh kemampuan dalam menggunakan akal. Jika manusia mampu
menggunakan akalnya, maka ia memilih agama islam.[22]
Tafsir ringkas berisi
kesimpulan dari seluruh tafsir diatas. Tafsir ini meringkas dari seluruh isi
tafsir. Jika Allah Swt menghendaki satu umat, maka umat itu akan menganut satu
agama. Allah Swt tidak menghendaki demikian. Allah Swt memberikan kebebasan.
Kebebasan untuk memilih dan memilah. Kebebasan Allah disalahgunakan oleh
sebagian golongan. Ia senantiasa berselisih. Ia saling membenarkan ucapan dan
perbuatannya. Ia mengikuti hawa nafsunya. Allah Swt bersifat adil. Allah Swt
memberi pahala dan siksa. Pahala diberikan kepada orang yang mengikuti
ajaran-Nya. Ia enggan berselisih. Ia memiliki keimanan yang kuat. Ia mampu
mengontrol hawa nafsunya. Siksa diberikan kepada pembangkang. Ia senantiasa
berselisih.[23]
D.
Analisis Pembahasan
Perilaku organisasi merupakan cara individu bertindak dalam
organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari tingkah laku individu. Toha berpendapat,
bahwa perilaku organisasi mencakup tingkah laku manusia dalam organisasi.[24] Perilaku
organisasi ditafsirkan dalam surah Hud ayat 118. Surah Hud ayat 118 berbunyi,
وَلَوْشَآءَ
رَبٌّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلاَيَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ
Dalam surah Hud ayat 118, kata وَلَوْشَآءَ رَبٌّكَ merujuk pada pengandaian terhadap kehendak yang diberikan oleh
Allah Swt. Kata اُمَّةً
وَّاحِدَةً disandarkan kepada kata لَجَعَلَ النَّاسَ. Kata tersebut merujuk
pada kesatuan umat yang diciptakan oleh Allah Swt. Kata وَّلاَيَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ menggambarkan,
bahwa perbedaan karakter umat yang disatukan dalam satu wadah dapat menyebabkan
perselisihan.
Perilaku organisasi digunakan untuk memahami persoalan organisasi,
sehingga pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku organisasi dapat berupa
pengendalian. Pengendalian tersebut merujuk pada tingkah laku organisasi. Perilaku
mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Perilaku organisasi dipelajari dalam
studi tingkah laku manusia. Individu diharapkan memiliki perilaku organisasi
yang baik. Perilaku organisasi berpengaruh terhadap kinerja individu. Perilaku
organisasi yang baik menjadikan kinerja yang optimal. Dalam organisasi,
perilaku individu memiliki dua model, di antaranya karakteristik individu dan
karakteristik organisasi. Karakteristik individu merupakan faktor perilaku yang
disebabkan oleh individu. Karakteristik individu memiliki berbagai macam, di
antaranya kemampuan, kebutuhan, kepercayaan, pengalaman, dan pengharapan.
Karakteristik organisasi merupakan faktor perilaku yang dipengaruhi oleh
organisasi. Organisasi memiliki berbagai macam karakteristik, di antaranya
karakteristik tugas, wewenang, tanggung
jawab, dan kontrol diri.[25]
Di dalam organisasi, individu berasal dari berbagai daerah.
Individu memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan disebabkan oleh
karakteristik bawaan dan pengaruh lingkungan. Karaktersitik bawaan merupakan
karakteristik yang dibawa sejak lahir. Perbedaan berpengaruh terhadap kehidupan
organisasi. Dalam melakukan perintah, Individu memiliki respon yang bebeda. Ia
memiliki cara bersosialisasi yang berbeda. Perbedaan individual yang menonjol adalah
perbedaan demografi. Demografi merupakan data diri aktual yang bersifat
tetap, meliputi ras, suku dan budaya. Demografi dapat mempengaruhi perilaku
kerja, diantaranya kepribadian individu dalam bekerja, sikap, kemampuan dan
ketrampilan. Setiap individu memerlukan kerjasama untuk mencapai tujuan
organisasi. Individu diharapkan dapat menyatukan perbedaan. Persamaan karakter
individu berdampak pada perilaku organisasi. Dampak yang ditimbulkan, yaitu ia
mampu bekerjasama. Manusia memiliki dua karakter. Pertama, perbedaan
menyebabkan perselisihan. Kedua, perbedaan membuat individu bersatu. Perbedaan
sulit untuk disatukan, sehingga perbedaan menyebabkan perselisihan. Organisai terdiri
dari berbagai sifat individu. Organisasi mementingkan urusan kelompok. Di dalam organisasi, individu mengalami
pertukaran pendapat. Ia menerima berbagai pemikiran. Ia tidak dapat memaksakan
keinginan pribadi. Ia harus memahami perbedaan. Dalam musyawarah, seluruh
anggota menyaring semua pendapat, agar keputusan yang dihasilkan sesuai dengan
permasalahan. Cara memberi keputusan dan memecahkan masalah dijelaskan dalam teori
Ownes.
Manusia diciptakan Allah Swt dengan kemapuan yang berbeda-beda. Setiap
individu memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Semua anggota saling
merangkul. Jika anggota mengalami kesusahan, maka anggota lain membantunya.
Organisasi mengajarkan gotong royong. Kesulitan diselesaikan bersama. Sesama
anggota diharapkan saling menjaga. Ia
saling melindungi dan menyayangi. Kasih sayang menjadi pendorong pemersatu
perbedaan. Orang yang tidak berselisih adalah orang yang diberi rahmat oleh
Allah Swt. Allah memberikan rahmat melalui berbagai cara. Tanda orang yang
tidak berselisih yaitu ia selalu menebarkan kasih sayang. Dalam organisasi,
perselisihan dapat diatasi, yaitu dengan menumbuhkan kasih sayang. kasih sayang
digunakan sebagai perangkul perbedaan, tetapi setiap anggota tidak selalu
memiliki kasih sayang. ia bersikap acuh terhadap perbedaan. Jika semua anggota
ingin mencapai satu visi, maka ia harus memiliki kasih sayang.
Perilaku organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama,
produktivitas yang meningkat. Produktivitas berhubungan dengan keefektifan dan
kefisienan. Jika suatu organisasi bersifat produktif, maka ia dapat mencapai
tujuan. Proses pencapaian dilakukan dengan biaya pengeluaran yang rendah.
Kedua, kemangkiran yang harus dikurangi. Kemangkiran adalah sifat seseorang
yang disebabkan oleh ketidakhadiran saat bekerja tanpa alasan. Kemangkiran
menyebabkan kinerja individu buruk. Tingkat
kemangkiran yang tinggi berdampak kepada keefektifan dan kefesienan organisasi.
Ketiga, penurunan turn oven. Turn oven merupakan pengunduran diri
yang dilakukan permanen. Individu merasa tidak nyaman, sehingga ia mengundurkan
diri. Pengunduran diri disebabkan beberapa faktor, di antaranya kurangnya
kemampuan beradaptasi, kompensasi yang tidak sesuai, sarana yang tidak memadai,
dan jaminan yang kurang. Keempat, kepuasan kerja yang meningkat. Kepuasan kerja
merupakan rasa puas terhadap pencapaian kinerja.[26]
Individu telah melakukan kinerja secara optimal. Kepuasan kerja dikatakan
sebagai perbedaan jumlah nilai antara ekspetasi dengan realita. Kepuasan kerja
bersifat subjektif. Kepuasan kerja dapat berupa kenyamanan, pendapatan, dan
jaminan. Kepuasan kerja dikatakan sebagai awal keberhasilan. Individu merasa
puas, karena ia merasa telah termotivasi. Menurut Herzberg, para
motivator mempengaruhi kepuasan kerja.[27]
Kelima, meningkatkan employee citizenship. Employee citizenship merupakan
karakteristik pekerjaan.
Perilaku organisasi berperan penting dalam organisasi, di antaranya
individu mengetahui perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.
Perkembangan organisasi didasari asumsi individu. Individu berasumsi, bahwa ia
memiliki hasrat berkembang. Ia ingin memberikan konstribusi di organisasi. Ia
ingin memiliki potensi di organisasi. Perkembangan organisasi bertujuan untuk menghilangkan
faktor penghambat organisasi. Perkembangan organisasi harus selalu dipantau. Pengembangan
organisasi merupakan tanggapan terhadap perubahan. Keberhasilan kerja diperoleh
dengan optimal. Ia melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan
kerja dicapai karena kesesuaian keahlian. Keberhasilan kerja dipengaruhi dua
faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern dipengaruhi
oleh kecerdasan, ketrampilan, bakat, motivasi, cita-cita, kepribadian,
kebutuhan psikologis dan minat. Faktor ekstern dipengaruhi oleh
lingkungan rumah dan lingkungan bekerja. Organisasi dipengaruhi oleh berbagai
faktor lingkungan kerja, di antaranya
rekan bekerja, job security, gaji, dan hubungan dengan pimpinan. [28]
Perilaku organisasi memiliki manfaat. Manfaatnya dirasakan oleh
pemimpin dan anggota organisasi. Perilaku organisasi memiliki berbagai manfaat,
diantaranya untuk menentukan kebijakan, membuat peraturan, memecahkan masalah,
dan sebagainya. Individu memiliki perilaku yang berbeda. Organisasi memerlukan
kebijakan, agar perilaku individu dapat terkontrol. Kebijakan organisasi
menimbulkan peraturan. Peraturan disesuaikan dengan perilaku yang diharapkan
organisasi. Peraturan harus dipatuhi oleh semua anggota organisasi. Kebijakan
dan peraturan organisasi dapat membatasi perilaku organisasi. Perbedaan
pandangan individu menyebabkan perselisihan. Perselisihan menimbulkan masalah.
Masalah harus segera diatasi. Pengatasian dengan mencari jalan keluar
permasalahan.
Perilaku organisasi berperan penting dalam era globalisasi. Era
globalisasi menyebabkan transfer komunikasi. Transfer komunikasi berbentuk
penerimaan produk dan tenaga kerja. Di era globalisasi, dampak yang dihasilkan
dari transfer komunikasi adalah organisasi lokal dapat bekerjasama dengan
organisasi luar negeri. Kerjasama ini menyebabkan perbedaan nilai budaya.
Individu organisasi perlu memahami perilaku dari setiap organisasi, agar organisasi
yang berbeda dapat bekerjasama dengan baik.
Dalam organisasi, perilaku individu memiliki banyak manfaat, di antaranya
mempunyai nilai budaya yang berbeda, menjadi keluarga yang soild, berinvestasi
pada employee training, dan memberdayakan pegawai. Anggota organisasi dapat
menjadi solid, karena ia saling menghargai dan memahami perilaku setiap
individu. Employee training merupakan pelatihan. Pelatihan digunakan
untuk memperbaiki kemampuan kinerja[29]
Hadari Nawawi menyatakan, bahwa pelatihan adalah proses melengkapi pekerja
dengan ketrampilan khusus.[30] Pelatihan
bersifat continue. Employee training menyebabkan individu memahami
pekerjaannya. Perubahan lingkungan kerja berdampak pada employee training.
Teknologi sering mengalami pembaharuan. Jika teknologi mengalami pembaharuan,
maka metode kerja mengalami perubahan. Dalam metode kerja, perubahan memerlukan
employee training. Individu mampu menyamakan sikap dengan pekerjaannya.[31]
Pemberdayaan pegawai dilakukan dengan pemberian wewenang terhadap pegawai.
Pemberdayaan memiliki enam tahap, diantaranya desire (keinginan
manajemen), trust (membangun kepercayaan), confident (rasa
percaya diri), credibility (menjaga kredibilitas), accounbility (tanggung
jawab), dan communication (komunikasi). Desire dilakukan dengan pemberian
kesempatan kepada pegawai. Pegawai diberi kesempatan untuk mengidentifikasi
permasalahan yang terjadi. Pegawai dilatih untuk menguasai diri. Ia
menggambarkan keahliannya. Trust dibangun antara pegawai. Trust
berfungsi untuk menciptakan kondisi yang baik. Pertukaran informasi dilakukan
tanpa rasa takut. Anggota diberi kepercayaan untuk membuat kebijakan. Confident
timbul karena rasa percaya diri. Percaya diri terhadap kemampuannya. Confident
ditimbulkan dengan membangun jaringan antar depatermen. Cara menjaga credibility,
yaitu dengan penghargaan dan mengembangkan lingkungan kerja. Ia menghasilkan
kompetisi yang sehat, sehingga organisasi memiliki performance yang
tinggi. Accountibility digunakan sebagai sarana evaluasi kinerja. Komunikasi
terbuka diperlukan dalam organisasi. Komunikasi dapat menghambat kesalah
fahaman.[32]
E.
Penutup
Perilaku organisasi merupakan cara individu bertindak dalam
organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari tingkah laku individu. Perilaku
organisasi juga digunakan untuk memahami persoalan organisasi, sehingga
pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku mempengaruhi pencapaian tujuan
organisasi. Perilaku organisasi dipelajari dari tingkah laku manusia. Studi ini
mencakup pengaruh yang ditimbulkan dari perilaku. Di dalam organisasi, individu
berasal dari berbagai daerah. Individu memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap
individu memerlukan kerjasama untuk mencapai tujuan organisasi. Individu
diharapkan dapat menyatukan perbedaan. Penyamaan karakter individu memberikan
dampak pada perilaku organisasi.
Perbedaan sulit untuk disatukan, sehingga perbedaan menyebabkan
perselisihan. Organisasi terdiri dari berbagai sifat individu. Organisasi
mementingkan urusan kelompok. Di dalam
organisasi, individu mengalami pertukaran pendapat. Ia menerima berbagai
pemikiran. Ia tidak dapat memaksakan keinginan pribadi. Ia harus memahami
perbedaan. Dalam organisasi, sikap toleransi diperlukan dalam pengambilan keputusan, agar setiap anggota
tidak berselisih satu sama lain. Perselisihan dapat dihindari dengan saling
mengalah dan mengerti. Perilaku tersebut ditimbulkan karena kasih sayang. Kasih
sayang menyebabkan anggota organisasi kompak. Kasih sayang menjadi pendorong
pemersatu perbedaan. Orang yang tidak berselisih yaitu orang yang diberi rahmat
oleh Allah Swt. Allah memberikan rahmat melalui berbagai cara. Tanda orang yang
tidak berselisih adalah ia selalu menebarkan kasih sayang. Dalam organisasi,
perselisihan dapat diatasi, yaitu dengan menumbuhkan kasih sayang.
Anggota organisasi seharusnya memiliki perilaku yang baik. Perilaku
yang baik menyebabkan kinerja yang optimal. Perilaku yang baik menyebabkan
tercapainya prestasi. Perilaku yang baik diimplementasikan dalam bebagai cara.
Perilaku yang baik menimbulkan keharmonisan organisasi. Individu disarankan
menjaga perilakunya yang baik. Perilaku baik dapat meningkatkan kualitas
organisasi. Jika perilaku yang baik tidak dijaga, maka ia mudah terpengaruhi
melakukan perilaku yang buruk.
Daftar Pustaka
Wirawan,
Evaluasi Teori, Mode, Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta: Rajawali
Pers. 2015.
Hersey,
Paul, Pendayaguaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga. 1955.
Rivai,
Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada. 2004
Larry
L. Cummings. “Toward Organizational Behavioral”. Academic of Management Raview.
Tasha
Rube. “Cara Berpikir”. https://www.google.com/amp/s/id.m.wikihow,com/Berpikir%3famp=l.
2014.
Avicenna,.
“Cara Memahami Masalah”. https://lesprivatsurabaya
.net/cara-memahami-persoalan-atau masalah/. 3 Mei 2018.
Thoha
Miftah. Perilaku Organisasi . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.
Uknown.
“Perencanaan Organisasi”. http://deaalliqafitri.blogspot.com/2013/10/tugas-3-manfaat-perencanaan-jenis_18.html?m=1.
18 Oktober 2013.
Muhammad
Fathurrohman. “Pengawasan Sebagai Fungsi Manajemen”. https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/29/pengawasan-dan-kontrol-sebagai-fungsi-manajemen/amp/.
2012.
M.
Chazienul Ulum. Perilaku Organisasi Menuju Orientasi Pemberdayaan. Malang: UB
Press. 2016.
Thoha
Miftah. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.
Seravine.
“Konflik dalam Perilaku Organisasi”. http://tugaskuliahanakmanej.blogspot.com/2011/06/konflik-dalam-perilaku-organisasi.html?m=1.
11 juni 201.
Uknown. “Perilaku Organisasi”. http://pangeranarti.blogspot.com/2014/11/pengertian-perilaku-organisasi-lengkap.html?m=1. 20 November 2014.
Hasto
Sudew. Psikologi Perilaku Organisasi.
Jakarta: PT. Revka Petra Media. 2014.
Anoraga.
Psikologi Industri dan Sosial.
Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. 1995.
Dwi
Indriyani. “Faktor-Faktor Penentu
Keberhasilan Kerja”. http://infoblog971.blogspot.com/2015/06/faktor-faktor-penentu-keberhasilan-kerja.html?m-1. 2015.
Hadari
Nawawi. SDM Untuk Bisinis yang Kompetitif . Yogyakarta: Universitas
gajahmada. 2001.
Jurnal
Managemen. “Manajemen Sumber Daya
Manusia”. Jurnal pembelajaran..
Shelmi.
“Pemberdayaan Karyawan”. https;//www.google.com/amp/s/shelmi.wordpress.com/2009/05/08/pemberdayaan-karyawan/amp/.
2009.
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abdul Fida Ismail Ibnu Kasir. Tafsir Ibnu
Katsir. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2005.
Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terjemahan
Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
2010.
Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. Tafsir Al-Maraghiy. Mesir: CV.
Toha Putra. 1974.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1984.
Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang
Disempurnakan). Jakarta: Widya Cahaya. 2011.
Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkas. Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2016.
Quthb, Sayyid. Fi Zhilalil Qur’an. Beirut: Darusy-Syuruq.
1992.
Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
2002.
[1] Wirawan, Evaluasi Teori, Mode, Standar, Aplikasi dan Profesi (Jakarta:
Rajawali Pers, 2011), hal 27.
[2] Hersey, Paul, Pendayaguaan Sumber Daya Manusia (Jakarta:
Erlangga, 1995), hal 15.
[3] Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal 111
[4] Ibid, hal. 112
[5] Larry L. Cummings, “Toward Organizational Behavioral”, Academic
of Management Raview., hal 92
[6] Tasha Rube, “Cara Berpikir”, https://www.google.com/amp/s/id.m.wikihow,com/Berpikir%3famp=1, 2014
[7] Avicenna, “Cara Memahami Masalah”, https://lesprivatsurabaya .net/cara-memahami-persoalan-atau masalah/, 3 Mei 2018
[8] Thoha Miftah, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2004), hal 9
[10] Uknown, “Perencanaan Organisasi”, http://deaalliqafitri.blogspot.com/2013/10/tugas-3-manfaat-perencanaan-jenis_18.html?m=1, 18 Oktober 2013
[11] Muhammad Fathurrohman, “Pengawasan Sebagai Fungsi Manajemen”, https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/29/pengawasan-dan-kontrol-sebagai-fungsi-manajemen/amp/, 2012
[12] M. Chazienul Ulum, Perilaku Organisasi Menuju Orientasi
Pemberdayaan, (Malang: UB Press, 2016), hal 25.
[13] Thoha Miftah, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2004), hal 14
[14] M. Chazienul Ulum, Perilaku Organisasi Menuju Orientasi
Pemberdayaan, (Malang: UB Press, 2016), hal 24.
[15] Seravine “Konflik dalam Perilaku Organisasi”, http://tugaskuliahanakmanej.blogspot.com/2011/06/konflik-dalam-perilaku-organisasi.html?m=1, 11 juni 2011
[16] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah ( Jakarta: Lantera
Hati, 2002), hal 362.
[17] Hamka, Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984),
hal. 152.
[18] Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir
(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003), hal. 116
[19] Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghy (Mesir: CV.
Toha Putra, 1974), hal. 180.
[20] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), hal. 285
[21] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan tafsirnya (Jakarta:
Widya Cahaya, 2011), hal. 488.
[22] Imam Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Bandung: Sinar
Baru Algensindo, 2010), hal. 884.
[23] Kementrian Agama RI, Tafsir ringkas (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2016), hal. 637.
[24] Uknown “Perilaku Organisasi”, http://pangeranarti.blogspot.com/2014/11/pengertian-perilaku-organisasi-lengkap.html?m=1, 20 November 2014
[25] Hasto Sudewo, Psikologi Perilaku Organisasi (Jakarta: PT.
Revka Petra Media, 2014), hal. 21.
[26] Anoraga S, Psikologi Industri dan Sosial (Jakarta: PT Dunia
Pustaka Jaya, 1995), hal. 110
[27] Ibid, hal 112
[28] Dwi Indriyani, “Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Kerja”, http://infoblog971.blogspot.com/2015/06/faktor-faktor-penentu-keberhasilan-kerja.html?m-1, 2015
[29] Hadari Nawawi, SDM Untuk Bisinis yang Kompetitif
(Yogyakarta: Universitas gajahmada, 2001), hal. 41
[30] Ibid, hal 209
[31] Jurnal Managemen, “Manajemen Sumber Daya Manusia”, Jurnal
pembelajaran.,
hal.
10.
[32] Shelmi “Pemberdayaan Karyawan” https;//www.google.com/amp/s/shelmi.wordpress.com/2009/05/08/pemberdayaan-karyawan/amp/,
2009
No comments:
Post a Comment