Sunday, January 12, 2020

PERILAKU ORGANISASI DALAM SURAH HUD AYAT 118


PERILAKU ORGANISASI DALAM SURAH HUD AYAT 118
Oleh: Firyal Salsabila Taroid 


A.    Pendahuluan.
Tulisan ini ditujukan untuk menggambarkan perilaku organisasi. Perilaku organisasi merupakan cara individu bertindak dalam organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari tingkah laku individu. Perilaku organisasi juga digunakan untuk memahami persoalan organisasi, sehingga pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku organisasi menekankan aspek-aspek psikologi. Aspek-aspek psikologi membahas perilaku individu dalam organisasi. Perilaku organisasi mempengaruhi tercapainya tujuan organisasi. Perilaku organisasi merupakan komponen penting dalam pencapaian prestasi. Prestasi dihasilkan melalui kinerja yang baik. Perilaku yang konsisten dapat mencapai segala sesuatu dengan mudah. Perilaku yang konsisten juga menjadikan risiko kinerja lebih rendah. Kecerdasan dan akal sehat menghasilkan perilaku organisasi yang baik. Jika kelompok ingin mencapai tujuan organisasi, maka ia harus berperilaku menggunakan kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional akan menghasilkan perilaku yang berkualitas. Jika kecerdasan emosional diterapkan untuk mengelola perilaku, maka ia akan berperilaku yang menguntungkan bagi organisasi. Perilaku organisasi dipengaruhi oleh  perbedaan tingkah laku individu. Perbedaan tingkah laku dipengaruhi oleh kecerdasan emosional individu. Individu memiliki kepribadian dan kehidupan sosial yang berbeda. Perbedaan tersebut mempengaruhi individu dalam mengelola perilaku. Dalam organisasi, setiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda. Perbedaan karakter harus disatukan dalam organisasi. Perselisihan merupakan faktor perbedaan. Perselisihan sering terjadi dalam perilaku organisasi. Pemaksaan kehendak juga sering terjadi dalam perilaku organisasi, sehingga anggota sulit mencapai tujuan organisasi.
            Dalam organisasi, perselisihan dapat dihindari. Perselisihan dapat dihindari dengan dua cara, yaitu menghargai perbedaan dan menebar kasih sayang. perbedaan bukan untuk diperdebatkan, tetapi perbedaan timbul untuk dihargai. Toleransi menimbulkan perilaku organisasi yang baik. Dalam organisasi, pemimpin tidak bisa memaksakan kehendaknya. Anggota memiliki hak untuk berpendapat, sehingga anggota tidak selalu bersikap tunduk terhadap pemimpin. Dalam organisasi, sikap toleransi diperlukan saat pengambilan keputusan, agar setiap anggota tidak berselisih satu sama lain. Perselisihan dapat dihindari dengan saling mengalah dan mengerti. Perilaku tersebut ditimbulkan karena kasih sayang. Kasih sayang menyebabkan anggota organisasi kompak. Setiap anggota memiliki cara pengimplementasian yang berbeda. Pengimplementasian disesuaikan dengan tingkat kasih sayang yang dimiliki setiap anggota. Setiap anggota harus merangkul anggota lain. Setiap anggota harus mengingatkan satu sama lain. Perselisihan dapat terselesaikan dengan adanya kecerdasan emosional. Setiap anggota harus menguasai kepribadian dan lingkungan sosial, agar ia dapat mengelola perilaku dengan baik. Allah Swt memberikan rahmat kepada sebagian individu. Rahmat Allah Swt diberikan melalui berbagai cara. Rahmat Allah Swt dapat menghilangkan perselisihan. Orang yang tidak berselisih adalah orang yang memiliki kasih sayang. Orang yang berselisih adalah orang yang tidak memiliki kasih sayang. Oleh Karena itu, perselisihan dapat dihindari dengan kasih sayang.
            Permasalahan ini memiliki berbagai manfaat. Pertama, anggota dapat mengetahui perilaku organisasi yang baik. Kedua, Keinginan pribadi tidak selalu terpenuhi dalam organisasi. Organisasi dijadikan sebagai wadah aspirasi. Seluruh anggota berhak memberikan aspirasinya. Apabila aspirasi yang diberikan oleh anggota berjumlah banyak, maka aspirasi memerlukan proses penyaringan. Informasi yang valid dibutuhkan dalam proses penyaringan. Penyaringan menghasilkan keputusan yang baik. Ketiga, individu memiliki strategi kecerdasan emosional yang baik, sehingga ia dapat berkomunikasi secara efektif. Ia tidak mudah terbawa emosi, sehingga ia tetap berperilaku organisasi yang baik. Keempat, Penentuan keputusan yang baik untuk mencapai tujuan organisasi. Keputusan dihasilkan berdasarkan hasil musyawarah. Kelima, permasalahan ini dapat memperbaiki perilaku. Keenam, permasalahan ini dapat digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Terakhir, permasalahan ini dapat mempelajari sifat dan budaya yang berbeda di organisasi. Permasalahan ini juga memiliki keunikan. Keunikan dalam permasalahan ini, yaitu perilaku organisasi dihubungkan dengan Surah Hud ayat 118.
B.     Teori Perilaku Organisasi
     Persyaratan yang harus dimiliki oleh cabang ilmu pengetahuan adalah ia harus memiliki teori. Teori merupakan inti dari ilmu pengetahuan. Teori merupakan suatu dalil yang terdiri dari konstruk-konstruk. Konstruk-kontruk harus memiliki definisi yang saling terkait. Teori menggambarkan fenomena. Teori menjelaskan hubungan antar variabel.[1] Perilaku organisasi memiliki beberapa teori, di antaranya teori  Charles Perrow, teori Ownes, teori wexley, teori Larry L. Cummings, Teori Joe Kelly, teori Taylor dan teori Max Weber.
     Teori  Charles Perrow yang dikutip oleh Hersey dan Paul mengutarakan, bahwa manusia mengalami banyak keluhan dalam bidang sumber daya manusia. Keluhan yang dirasakan manusia adalah rendahnya kualitas, rendahnya pendidikan dan sudut pandang yang sempit. Ia cenderung bersikap menghukum. Hukuman didasarkan pada keyakinan. Ia menyakini, bahwa perintah dan disiplin dapat menyelesaikan masalah.[2] Organisasi memiliki sumber daya manusia yang terbatas. Sumber daya manusia yang ada dalam organisasi adalah jumlah manusia yang dituntut untuk mengelola sesuatu dalam organisasi. Dalam organisasi, sumber daya manusia memiliki peranan penting. Dalam pengelolaan organisasi, manajer harus mengetahui keadaan sumber daya manusia yang ada di organisasi. Jika data sumber daya manusia didapatkan secara lengkap, maka pengelolaan organisasi dilaksanakan dengan mudah. Dalam organisasi, kualitas sumber daya manusia mengalami keluhan. Keluhan disebabkan rendahnya kualitas pendidikan. Pegawai menempuh pendidikan yang berbeda-beda, sehingga kualitas pendidikan yang diterima juga berbeda-beda. Perbedaan kualitas pendidikan menyebabkan perbedaan sudut pandang. Jika pegawai memiliki kualitas pendidikan yang rendah, maka ia memiliki sudut pandang yang sempit.
     Rivai dan Veithzal mengutip teori dari berbagai ahli. Pertama, teori Ownes. Teori Ownes mengutarakan, bahwa anggota membentuk stuktur dalam organisasi. Pembentukan struktur yang dilakukan dalam organisasi adalah pembuatan keputusan, cara mengatasi konflik dan cara memimpin. Di dalam organisasi, peran manusia diarahkan untuk memperbaiki organisasi. Perbaikan dilakukan dengan pelatihan kinerja anggota. Perbaikan bisa berupa training. Training dapat menumbuhkan bakat seorang anggota dalam pekerjaannya. Organisasi tidak terlepas dari kegiatan pemutusan masalah. Pembuatan keputusan harus didasari beberapa alasan. Jika usulan memiliki alasan yang kuat, maka usulan dapat dijadikan keputusan. Pegawai diharapkan memiliki ketrampilan sesuai dengan pekerjaanya. Ketrampilan dapat meningkatkan kualitas pegawai.[3]
     Kedua, teori wexley. teori wexley mengutarakan, bahwa ia memiliki pola sistem yang baik. Ia memiliki dua pola sistem, di antaranya open system (sistem terbuka) dan closed system (sistem tertutup). Pola sistem digunakan untuk transaksi organisasi dengan lingkungannya. Transaksi dibagi menjadi dua macam, yaitu input dan output. Transaksi input memiliki beberapa bentuk, di antaranya bentuk informasi, energi. uang, pegawai, material dan perlengkapan untuk organisasi. Transaksi output ditentukan dari sifat organisasi.[4]
     Teori Larry L. Cummings menekankan, bahwa perilaku organisasi terdiri dari berbagai cara. Cara yang ditekankan adalah cara berpikir, cara memahami persoalan-persoalan, dan cara menjelaskan pemecahan masalah.[5] Cara-cara tersebut memiliki peran penting dalam organisasi. Cara berpikir dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu berpikir secara konseptual dan berpikir secara intuitif. Cara berpikir konseptual dilakukan dengan mencari hubungan dari berbagai gagasan. Hubungan membentuk pemahaman yang benar dan menyeluruh. Cara berpikir intuitif dilakukan berdasarkan insting. Otak memproses informasi lebih banyak.[6] Persoalan dapat dipahami dengan berbagai cara, di antaranya pemahaman penyebab masalah, pemahaman dampak masalah dan pemahaman substansi masalah. Jika masalah sudah dapat dipahami, maka alternatif pemecahan masalah ditemukan.[7]
       Thoha Miftah mengutip teori dari berbagai ahli. Pertama, teori Joe Kelly. Teori Joe Kelly mengutarakan, bahwa  interaksi dibutuhkan dengan melakukan hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik dilakukan oleh dua pihak. Perumusan timbal baik didapatkan dari sifat organisasi. Perumusan dimulai dari awal, seperti cara organisasi dirintis, tumbuh, dan berkembang, dan pengaruh organisasi terhadap anggota-anggota sebagai individu, kelompok-kelompok pemilih, organisasi-organisasi lainnya dan intuisi-intuisi yang lebih besar.[8] Teori ini juga mempelajari cara organisasi bertahan hidup dalam segala kondisi. Pandangan ini memperlakukan organisasi sebagai tempat tinggal. Titik berat dari pemahaman tersebut adalah pada tingkah laku oeganisasi dan perilaku dari anggota-anggota organisasi mempengaruhi organisasi. Organisasi yang baik yaitu organisasi yang mampu survive. Lingkungan tidak membatasi ia berkembang. Pelaku organisasi menjadi tumpuan survive
       Kedua, teori Taylor. Teori Taylor mengutarakan, bahwa perilaku merupakan salah satu komponen dalam suatu mesin produksi yang besar. Ia bereksperimen menggunakan penelahaan waktu. Unsur waktu digunakan untuk menetapkan jumlah waktu. Ia mengusulkan penggunaan perencanaan dan pengawasan dalam perilaku kerja.[9] Perilaku kerja diawali dengan pembentukan perencanaan. Perencanaan digunakan sebagai standar pengawasan. Perencanaan berisi target pencapaian. Perencanaan memberikan gambaran mengenai kegiatan pekerjaan. Perencanaan mendasari pencapaian tujuan organisasi. Jika organisasi tidak memiliki perencanaan, maka pengorganisasi tidak berjalan dengan efektif.[10] Dalam perilaku kerja, pengawasan dapat menjadikan pelaksanaan kerja lebih efektif. Pelaksanaan kerja dijalankan sesuai prosedur. Sarana didayagunakan secara efektif. Pengawasan diharapkan dapat mencapai target kinerja. Pengawasan dijadikan sebagai sarana perbaikan. Evaluasi berbentuk hasil penyimpangan. Penyimpangan bermulai dari perencanaan awal. Pengawasan harus bersifat komprehatif dan terbuka. [11] Taylor menyatakan adanya empat kaidah dasar manajemen. Kaidah dasar manajemen harus dilakukan oleh semua organisasi. Pertama, pentingnya metode kerja ilmiah dalam melakukan kerja praktek dalam organisasi. Kedua, perlunya mengadakan seleksi, pelatihan dan pengembangan pegawai secara ilmiah. Ketiga, pengembangan ilmu tentang metode kerja, seleksi, latihan dan pengembangan pegawai. Keempat, pengembangan semangat kerja dan mental, agar suasana kerja tercipta kondusif.[12]
       Ketiga, teori Max Weber. Teori Max Weber menerangkan aspek-aspek perilaku. Aspek-aspek perilaku dapat dilihat dari penekanan berbagai struktur. Struktur yang ditekankan adalah ketidak percayaan terhadap kemampuan untuk menciptakan rasionalitas tertentu, mendapatkan informasi yang baik, dan membuat keputusan yang obyektif. Premis perilakunya yang nampak menunjukan, bahwa seseorang membutuhkan bantuan untuk mencapai keputusan yang baik. Jika hubungan kerja, spesialis prosedur dan aturan-aturan tertata dengan baik, maka keputusan dapat dibuat secara konsisten dan sistematis. Manajer harus memiliki otoritas tanggung jawab, di antaranya ia mampu mengendalikan suatu organisasi dan mematuhi prosedur. Weber memiliki beberapa sifat birokrasi organisasi dalam berperilaku. Sifat-sifat birokrasi dalam berperilaku, di antaranya adanya pembagian kerja, adanya suatu prosedur dan aturan-aturan, adanya hubungan kelompok yang impersonalitas, dan adanya kecakapan dalam promosi serta jabatan. [13] pembagian kerja harus dibentuk dengan jelas. Setiap pegawai memiliki tugas sesuai hasil pembangian kerja. Pegawai harus memiliki keahlian sesuai kedudukannya.[14]
       Semua teori memiliki identifikasi yang berbeda. Ia membahas perilaku organisasi, tetapi aspek didalamnya berbeda-beda. Teori Ownes dan teori Larry L membahas aspek perilaku yang sama. Keduanya membahas cara pemecahan konflik. Konflik disebabkan sesuatu yang saling bertentangan. Perilaku saling bergantung dapat menyebabkan konflik. Konflik juga disebabkan karena perilaku komunikasi. Konflik memiliki dua jenis, yaitu konflik intrapersonal dan konflik interpersonal. Konflik intrapersonal disebabkan dirinya sendiri. Kebutuhan yang bersaing menyebabkan konflik intrapersonal. Konflik interpersonal terjadi dengan orang lain. perbedaan pendapat dapat mempengaruhi konflik interpersonal. Konflik berdampak buruk terhadap semua pelaku organisasi. Dalam perilaku organisasi, konflik tidak bisa dihindari, sehingga pelaku organisasi harus memahami cara pemecahan konflik. Jika pelaku tidak dapat memahami pemecahan konflik, maka konflik tetap bertahan dalam organisasi. Konflik berdampak baik dan buruk. Konflik mengakibatkan peningkatan solidaritas. Konflik juga mangakibatkan rasa dendam.[15]

C.    Penafsiran Surah Hud ayat 118
Surah Hud terdiri dari 123 ayat. Surah Hud diturunkan di Makkah. Ia termasuk surah Makkiyah. Surah Hud mengisahkan Nabi Hud dan kaumnya. Surah Hud ayat 118 menjelaskan, bahwa Allah Swt menjadikan manusia berbeda-beda. Perbedaan yang menjadikan manusia berselisih. Tulisan ini ditafsirkan oleh beberapa kitab tafsir, di antaranya tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, tafsir ringkas karya kementrian Agama Republik Indonesia, tafsir Ibnu Kasir karya Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, tafsir Al- Maraghiy karya Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, tafsir Al –Azhar karya Prof. Dr. Hamka, Al-Qur’an dan tafsirnya karya Kementrian Agama RI, tafsir Fii Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, dan  tafsir Jalalain karya Imam Jalaludin Al-Mahalli,
Tafsir Al-Misbah menjelaskan, bahwa surah Hud ayat 118 terdapat kata لَوْ (law). Kata law bermakna sekiranya. Dalam firman-Nya, kata sekiranya menunjukan, bahwa sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Kata law digunakan untuk sesuatu yang mustahil terjadi. Allah Swt tidak berkehendak menjadikan manusia sama. Ia tidak menjadikan manusia satu, yakni satu pendapat, satu kecenderungan, dan satu agama. Jika Allah Swt menjadikan manusia satu, maka ia tidak memberi kebebasan kepada manusia. Kebebasan yang diberikan, adalah kebebasan dalam memilih agama dan kepercayaan.
Dalam masyarakat, perselisihan dan perbedaan dapat menimbulkan kelemahan dan ketegangan. Dalam kehidupan, perbedaan yang tidak dapat dihindari, adalah ciri dan tabiat manusia. Ciri dan tabiat manusia dapat menimbulkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan yang ditimbulkan dari ciri tabiat manusia, adalah kebebasan bertindak, memilih, dan memilah. Allah Swt memberikan anugerah dalam berbagai bentuk, di antaranya akal pikirian, potensi baik dan buruk. Manusia menggunakan potensi-potensinya untuk berselisih. Perselisihan digunakan dalam prinsip-prinsip pokok agama. Orang yang tidak berselisih adalah orang yang diberi rahmat oleh Allah Swt. Allah Swt menganugerahkan kemampuan memilah, tetapi kemampuan memilah tidak digunakan dalam urusan agama. Potensi memilih dan memilah dapat meningkatkan kualitas manusia. Potensi itu menyebabkan jiwa yang suci dan budi yang luhur. Manusia dapat terjerumus dalam kesesatan, karena kesesatan disebabkan oleh potensi memilih dan memilah. Kata  أمة (Ummah) berarti semua kelompok manusia. Kelompok manusia disatukan oleh beberapa kesamaan, seperti kesamaan agama, kesamaan kebutuhan dan kesamaan tempat.[16]
Tafsir Al-Azhar menjelaskan, bahwa Allah Swt dapat menghendaki manusia untuk bersatu. Manusia bersikap rukun atau akur, sehingga perkelahian tidak terjadi antar sesama manusia. Allah Swt berkehendak lain. Allah Swt menjadikan manusia berbeda-beda. Perselisihan selalu terjadi kepada manusia. Dalam tafsir ini, penulis menjelaskan perbedaan mengenai perilaku dan kemampuan. Manusia ditakdirkan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Manusia memiliki kecerdasan yang tinggi, tetapi ada juga manusia yang memiliki kecerdasan tingkat rendah. Jika manusia mampu menghadapi perselisihan, maka ia memiliki kecerdasan yang tinggi. Perbedaan kemampuan menyebabkan manusia berselisih dalam berbagai persoalan dan pekerjaan. Kemampuan yang berbeda-beda menimbulkan perilaku yang berbeda-beda. Seseorang memiliki keahlihan di bidang kesehatan, tetapi ada juga seseorang yang memiliki keahlian dibidang teknologi. Pemilihan pekerjaan disesuaikan dengan bakatnya. Pemilihan pekerjaan didorong oleh faktor rezeki. Jika manusia diciptakan sama, maka manusia tidak memiliki rasa saling melengkapi. Sebagian manusia beranggapan, bahwa perselisihan merupakan rahmat yang diberikan Allah Swt. Jika Allah Swt memberi rahmat kepada suatu golongan, maka golongan tersebut memperlihatkan kesanggupannya dalam bekerja. Sebagian golongan bersifat dengki terhadap perselisihan. Ia memonopoli dunia untuk kepentingannya. [17].
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan perbedaan dalam masalah agama dan aqidah. Manusia terbagi dalam berbagai mazhab dan pendapat. Ikrimah mengatakan, bahwa perselisihan diakibatkan masalah petunjuk. Al-Hasan Al-Bisri mengatakan, bahwa perselisihan diakibatkan oleh masalah rezeki. Sebelum Rasulullah datang, umat manusia berselisih dalam masalah petunjuk. Setelah Rasulullah datang, sebagian manusia mengikuti Rasulullah. Ia membenarkan perilaku dan perkataan Rasulullah. Ia membantu Rasulullah memperjuangkan islam. Ia termasuk golongan yang beruntung. Ia meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia termasuk golongan yang terselamatkan. Qatadah mengatakan, bahwa orang-orang yang dirahmati Allah adalah ahlul jama’ah. Negeri ahlul jama’ah berpencar-pencar, tetapi ia tidak berselisih.  Tawus berkata, bahwa Allah Swt tidak menciptakan manusia, agar ia berselisih pendapat. Allah Swt menciptakan manusia, agar ia bersatu dan dirahmati. Allah membagi dua golongan, yaitu golongan yang diberi rahmat, dan golongan yang tidak diberi rahmat. Golongan yang diberi rahmat dimasukan ke dalam surga. Golongan yang tidak diberi rahmat masuk ke neraka sa’ir.[18]
Tafsir Al-Maraghiy menjelaskan faktor manusia berpaling dari agamanya. Allah swt mejadikan manusia berbeda agama. Manusia berpaling dari agamanya. Ia mengikuti nalurinya. Allah Swt menciptakan manusia dengan satu tujuan. Tujuannya yaitu manusia menjadi makhluk yang berusaha. Ia tidak sekedar dituntun dengan ilham. Ia bertindak sesuai pikirannya. Allah Swt menjadikan manusia berbeda dalam bakat dan memperoleh ilmu. Dalam tafsir ini, penulis menggunakan perumpamaan lebah dan semut. Keduanya memiliki prinsip yang sama. Manusia memiliki kodrat yang berbeda. Ia dijadikan berbeda-beda. Pada periode pertama, kehidupan manusia tidak mengalami perbedaan. Kehidupan manusia mengalami peningkatan, sehingga kebutuhan mengalami penuntutan. Penuntutan kebutuhan mengakibatkan timbul perselisihan. Manusia berselisih dalam urusan duniawi. Orang yang diberi rahmat berpegang teguh kepada hukum kitab-Nya. Kitab Allah Swt dijadikan poros kesatuan umat. Allah Swt menciptakan perselisihan, agar terjadi perbedaan mengenai ilmu pengetahuan dan pendapat masing-masing.[19]
Tafsir Fii Zhilalil Qur’an menjelaskan, bahwa Allah menciptakan perbedaan sesuai dengan tabiat manusia. Allah memberikan kemampuan kepada manusia. Kemampuan untuk memilih jalan hidupnya dengan konsekuensinya. Pilihan manusia menentukan hasil. Hasilnya berupa petunjuk atau kesesatan. Pilihan keduanya sama-sama bertindak sesuai sunnah-Nya. Allah Swt berkehendak, agar manusia memilih kebebasan. Kebebasan dapat menimbulkan balasan. Allah Swt memberi balasan berupa surga dan neraka.   Allah Swt berkehendak agar manusia tidak menjadi umat yang satu. Sehingga, manusia memiliki konsekuensi yang berbeda-beda.[20]
Kitab Al-Qur’an dan tafsirnya menjelaskan, bahwa perselisihan diakibatkan perbedaan kebutuhan. Manusia mampu berkembang biak. Perkembang biakan membutuhkan waktu. Efesiensi waktu dapat menyebabkan perbedaan keperluan. Keperluan mengalami peningkatan. Keinginan manusia juga mengalami peningkatan. Jika umur manusia semakin tua, maka sesuatu yang diinginkan semakin banyak. Peningkatan keinginan dan keperluan menimbulkan perselisihan. Jika perselisihan tidak segera diatasi, maka perselisihan tetap terjadi dalam organisasi.[21]
Tafsir jalalain menerangkan secara umum. Allah Swt menjadikan perbedaan dalam masalah agama. Manusia diberi kebebasan beragama.  Manusia dibekali akal. Penentuan agama dipengaruhi oleh kemampuan dalam  menggunakan akal. Jika manusia mampu menggunakan akalnya, maka ia memilih agama islam.[22]
Tafsir ringkas berisi kesimpulan dari seluruh tafsir diatas. Tafsir ini meringkas dari seluruh isi tafsir. Jika Allah Swt menghendaki satu umat, maka umat itu akan menganut satu agama. Allah Swt tidak menghendaki demikian. Allah Swt memberikan kebebasan. Kebebasan untuk memilih dan memilah. Kebebasan Allah disalahgunakan oleh sebagian golongan. Ia senantiasa berselisih. Ia saling membenarkan ucapan dan perbuatannya. Ia mengikuti hawa nafsunya. Allah Swt bersifat adil. Allah Swt memberi pahala dan siksa. Pahala diberikan kepada orang yang mengikuti ajaran-Nya. Ia enggan berselisih. Ia memiliki keimanan yang kuat. Ia mampu mengontrol hawa nafsunya. Siksa diberikan kepada pembangkang. Ia senantiasa berselisih.[23]
D.    Analisis Pembahasan
Perilaku organisasi merupakan cara individu bertindak dalam organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari tingkah laku individu. Toha berpendapat, bahwa perilaku organisasi mencakup tingkah laku manusia dalam organisasi.[24] Perilaku organisasi ditafsirkan dalam surah Hud ayat 118. Surah Hud ayat 118 berbunyi,
وَلَوْشَآءَ رَبٌّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلاَيَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ
Dalam surah Hud ayat 118, kata وَلَوْشَآءَ رَبٌّكَ merujuk pada pengandaian terhadap kehendak yang diberikan oleh Allah Swt. Kata اُمَّةً وَّاحِدَةً disandarkan kepada kata لَجَعَلَ النَّاسَ. Kata tersebut merujuk pada kesatuan umat yang diciptakan oleh Allah Swt.  Kata وَّلاَيَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ menggambarkan, bahwa perbedaan karakter umat yang disatukan dalam satu wadah dapat menyebabkan perselisihan.
Perilaku organisasi digunakan untuk memahami persoalan organisasi, sehingga pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku organisasi dapat berupa pengendalian. Pengendalian tersebut merujuk pada tingkah laku organisasi. Perilaku mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Perilaku organisasi dipelajari dalam studi tingkah laku manusia. Individu diharapkan memiliki perilaku organisasi yang baik. Perilaku organisasi berpengaruh terhadap kinerja individu. Perilaku organisasi yang baik menjadikan kinerja yang optimal. Dalam organisasi, perilaku individu memiliki dua model, di antaranya karakteristik individu dan karakteristik organisasi. Karakteristik individu merupakan faktor perilaku yang disebabkan oleh individu. Karakteristik individu memiliki berbagai macam, di antaranya kemampuan, kebutuhan, kepercayaan, pengalaman, dan pengharapan. Karakteristik organisasi merupakan faktor perilaku yang dipengaruhi oleh organisasi. Organisasi memiliki berbagai macam karakteristik, di antaranya karakteristik  tugas, wewenang, tanggung jawab, dan kontrol diri.[25]
Di dalam organisasi, individu berasal dari berbagai daerah. Individu memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan disebabkan oleh karakteristik bawaan dan pengaruh lingkungan. Karaktersitik bawaan merupakan karakteristik yang dibawa sejak lahir. Perbedaan berpengaruh terhadap kehidupan organisasi. Dalam melakukan perintah, Individu memiliki respon yang bebeda. Ia memiliki cara bersosialisasi yang berbeda. Perbedaan individual yang menonjol adalah perbedaan demografi. Demografi merupakan data diri aktual yang bersifat tetap, meliputi ras, suku dan budaya. Demografi dapat mempengaruhi perilaku kerja, diantaranya kepribadian individu dalam bekerja, sikap, kemampuan dan ketrampilan. Setiap individu memerlukan kerjasama untuk mencapai tujuan organisasi. Individu diharapkan dapat menyatukan perbedaan. Persamaan karakter individu berdampak pada perilaku organisasi. Dampak yang ditimbulkan, yaitu ia mampu bekerjasama. Manusia memiliki dua karakter. Pertama, perbedaan menyebabkan perselisihan. Kedua, perbedaan membuat individu bersatu. Perbedaan sulit untuk disatukan, sehingga perbedaan menyebabkan perselisihan. Organisai terdiri dari berbagai sifat individu. Organisasi mementingkan urusan kelompok.  Di dalam organisasi, individu mengalami pertukaran pendapat. Ia menerima berbagai pemikiran. Ia tidak dapat memaksakan keinginan pribadi. Ia harus memahami perbedaan. Dalam musyawarah, seluruh anggota menyaring semua pendapat, agar keputusan yang dihasilkan sesuai dengan permasalahan. Cara memberi keputusan dan memecahkan masalah dijelaskan dalam teori Ownes.
Manusia diciptakan Allah Swt dengan kemapuan yang berbeda-beda. Setiap individu memiliki tingkat kemampuan yang berbeda. Semua anggota saling merangkul. Jika anggota mengalami kesusahan, maka anggota lain membantunya. Organisasi mengajarkan gotong royong. Kesulitan diselesaikan bersama. Sesama anggota  diharapkan saling menjaga. Ia saling melindungi dan menyayangi. Kasih sayang menjadi pendorong pemersatu perbedaan. Orang yang tidak berselisih adalah orang yang diberi rahmat oleh Allah Swt. Allah memberikan rahmat melalui berbagai cara. Tanda orang yang tidak berselisih yaitu ia selalu menebarkan kasih sayang. Dalam organisasi, perselisihan dapat diatasi, yaitu dengan menumbuhkan kasih sayang. kasih sayang digunakan sebagai perangkul perbedaan, tetapi setiap anggota tidak selalu memiliki kasih sayang. ia bersikap acuh terhadap perbedaan. Jika semua anggota ingin mencapai satu visi, maka ia harus memiliki kasih sayang.
Perilaku organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama, produktivitas yang meningkat. Produktivitas berhubungan dengan keefektifan dan kefisienan. Jika suatu organisasi bersifat produktif, maka ia dapat mencapai tujuan. Proses pencapaian dilakukan dengan biaya pengeluaran yang rendah. Kedua, kemangkiran yang harus dikurangi. Kemangkiran adalah sifat seseorang yang disebabkan oleh ketidakhadiran saat bekerja tanpa alasan. Kemangkiran menyebabkan kinerja  individu buruk. Tingkat kemangkiran yang tinggi berdampak kepada keefektifan dan kefesienan organisasi. Ketiga, penurunan turn oven. Turn oven merupakan pengunduran diri yang dilakukan permanen. Individu merasa tidak nyaman, sehingga ia mengundurkan diri. Pengunduran diri disebabkan beberapa faktor, di antaranya kurangnya kemampuan beradaptasi, kompensasi yang tidak sesuai, sarana yang tidak memadai, dan jaminan yang kurang. Keempat, kepuasan kerja yang meningkat. Kepuasan kerja merupakan rasa puas terhadap pencapaian kinerja.[26] Individu telah melakukan kinerja secara optimal. Kepuasan kerja dikatakan sebagai perbedaan jumlah nilai antara ekspetasi dengan realita. Kepuasan kerja bersifat subjektif. Kepuasan kerja dapat berupa kenyamanan, pendapatan, dan jaminan. Kepuasan kerja dikatakan sebagai awal keberhasilan. Individu merasa puas, karena ia merasa telah termotivasi. Menurut Herzberg, para motivator mempengaruhi kepuasan kerja.[27] Kelima, meningkatkan employee citizenship. Employee citizenship merupakan karakteristik pekerjaan. 
Perilaku organisasi berperan penting dalam organisasi, di antaranya individu mengetahui perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja. Perkembangan organisasi didasari asumsi individu. Individu berasumsi, bahwa ia memiliki hasrat berkembang. Ia ingin memberikan konstribusi di organisasi. Ia ingin memiliki potensi di organisasi. Perkembangan organisasi bertujuan untuk menghilangkan faktor penghambat organisasi. Perkembangan organisasi harus selalu dipantau. Pengembangan organisasi merupakan tanggapan terhadap perubahan. Keberhasilan kerja diperoleh dengan optimal. Ia melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Keberhasilan kerja dicapai karena kesesuaian keahlian. Keberhasilan kerja dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern dipengaruhi oleh kecerdasan, ketrampilan, bakat, motivasi, cita-cita, kepribadian, kebutuhan psikologis dan minat. Faktor ekstern dipengaruhi oleh lingkungan rumah dan lingkungan bekerja. Organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan kerja,  di antaranya rekan bekerja, job security, gaji, dan hubungan dengan pimpinan. [28]
Perilaku organisasi memiliki manfaat. Manfaatnya dirasakan oleh pemimpin dan anggota organisasi. Perilaku organisasi memiliki berbagai manfaat, diantaranya untuk menentukan kebijakan, membuat peraturan, memecahkan masalah, dan sebagainya. Individu memiliki perilaku yang berbeda. Organisasi memerlukan kebijakan, agar perilaku individu dapat terkontrol. Kebijakan organisasi menimbulkan peraturan. Peraturan disesuaikan dengan perilaku yang diharapkan organisasi. Peraturan harus dipatuhi oleh semua anggota organisasi. Kebijakan dan peraturan organisasi dapat membatasi perilaku organisasi. Perbedaan pandangan individu menyebabkan perselisihan. Perselisihan menimbulkan masalah. Masalah harus segera diatasi. Pengatasian dengan mencari jalan keluar permasalahan.
Perilaku organisasi berperan penting dalam era globalisasi. Era globalisasi menyebabkan transfer komunikasi. Transfer komunikasi berbentuk penerimaan produk dan tenaga kerja. Di era globalisasi, dampak yang dihasilkan dari transfer komunikasi adalah organisasi lokal dapat bekerjasama dengan organisasi luar negeri. Kerjasama ini menyebabkan perbedaan nilai budaya. Individu organisasi perlu memahami perilaku dari setiap organisasi, agar organisasi yang berbeda dapat bekerjasama dengan baik.
Dalam organisasi, perilaku individu memiliki banyak manfaat, di antaranya mempunyai nilai budaya yang berbeda, menjadi keluarga yang soild, berinvestasi pada employee training, dan memberdayakan pegawai. Anggota organisasi dapat menjadi solid, karena ia saling menghargai dan memahami perilaku setiap individu. Employee training merupakan pelatihan. Pelatihan digunakan untuk memperbaiki kemampuan kinerja[29] Hadari Nawawi menyatakan, bahwa pelatihan adalah proses melengkapi pekerja dengan ketrampilan khusus.[30] Pelatihan bersifat continue. Employee training menyebabkan individu memahami pekerjaannya. Perubahan lingkungan kerja berdampak pada employee training. Teknologi sering mengalami pembaharuan. Jika teknologi mengalami pembaharuan, maka metode kerja mengalami perubahan. Dalam metode kerja, perubahan memerlukan employee training. Individu mampu menyamakan sikap dengan pekerjaannya.[31] Pemberdayaan pegawai dilakukan dengan pemberian wewenang terhadap pegawai. Pemberdayaan memiliki enam tahap, diantaranya desire (keinginan manajemen), trust (membangun kepercayaan), confident (rasa percaya diri), credibility (menjaga kredibilitas), accounbility (tanggung jawab), dan communication (komunikasi). Desire dilakukan dengan pemberian kesempatan kepada pegawai. Pegawai diberi kesempatan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi. Pegawai dilatih untuk menguasai diri. Ia menggambarkan keahliannya. Trust dibangun antara pegawai. Trust berfungsi untuk menciptakan kondisi yang baik. Pertukaran informasi dilakukan tanpa rasa takut. Anggota diberi kepercayaan untuk membuat kebijakan. Confident timbul karena rasa percaya diri. Percaya diri terhadap kemampuannya. Confident ditimbulkan dengan membangun jaringan antar depatermen. Cara menjaga credibility, yaitu dengan penghargaan dan mengembangkan lingkungan kerja. Ia menghasilkan kompetisi yang sehat, sehingga organisasi memiliki performance yang tinggi. Accountibility digunakan sebagai sarana evaluasi kinerja. Komunikasi terbuka diperlukan dalam organisasi. Komunikasi dapat menghambat kesalah fahaman.[32]

E.     Penutup
Perilaku organisasi merupakan cara individu bertindak dalam organisasi. Perilaku organisasi terbentuk dari tingkah laku individu. Perilaku organisasi juga digunakan untuk memahami persoalan organisasi, sehingga pemecahan masalah dapat dihasilkan. Perilaku mempengaruhi pencapaian tujuan organisasi. Perilaku organisasi dipelajari dari tingkah laku manusia. Studi ini mencakup pengaruh yang ditimbulkan dari perilaku. Di dalam organisasi, individu berasal dari berbagai daerah. Individu memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap individu memerlukan kerjasama untuk mencapai tujuan organisasi. Individu diharapkan dapat menyatukan perbedaan. Penyamaan karakter individu memberikan dampak pada perilaku organisasi.
Perbedaan sulit untuk disatukan, sehingga perbedaan menyebabkan perselisihan. Organisasi terdiri dari berbagai sifat individu. Organisasi mementingkan urusan kelompok.  Di dalam organisasi, individu mengalami pertukaran pendapat. Ia menerima berbagai pemikiran. Ia tidak dapat memaksakan keinginan pribadi. Ia harus memahami perbedaan. Dalam organisasi, sikap toleransi diperlukan dalam  pengambilan keputusan, agar setiap anggota tidak berselisih satu sama lain. Perselisihan dapat dihindari dengan saling mengalah dan mengerti. Perilaku tersebut ditimbulkan karena kasih sayang. Kasih sayang menyebabkan anggota organisasi kompak. Kasih sayang menjadi pendorong pemersatu perbedaan. Orang yang tidak berselisih yaitu orang yang diberi rahmat oleh Allah Swt. Allah memberikan rahmat melalui berbagai cara. Tanda orang yang tidak berselisih adalah ia selalu menebarkan kasih sayang. Dalam organisasi, perselisihan dapat diatasi, yaitu dengan menumbuhkan kasih sayang.
Anggota organisasi seharusnya memiliki perilaku yang baik. Perilaku yang baik menyebabkan kinerja yang optimal. Perilaku yang baik menyebabkan tercapainya prestasi. Perilaku yang baik diimplementasikan dalam bebagai cara. Perilaku yang baik menimbulkan keharmonisan organisasi. Individu disarankan menjaga perilakunya yang baik. Perilaku baik dapat meningkatkan kualitas organisasi. Jika perilaku yang baik tidak dijaga, maka ia mudah terpengaruhi melakukan perilaku yang buruk.





Daftar Pustaka

Wirawan, Evaluasi Teori, Mode, Standar, Aplikasi dan Profesi. Jakarta: Rajawali Pers. 2015.
Hersey, Paul, Pendayaguaan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.  1955.
Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004
Larry L. Cummings. “Toward Organizational Behavioral”.  Academic of Management Raview.  
Tasha Rube.  “Cara Berpikir”. https://www.google.com/amp/s/id.m.wikihow,com/Berpikir%3famp=l. 2014.
Avicenna,. “Cara Memahami Masalah”.  https://lesprivatsurabaya .net/cara-memahami-persoalan-atau masalah/.  3 Mei 2018.
Thoha Miftah. Perilaku Organisasi . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.
Uknown. “Perencanaan Organisasi”. http://deaalliqafitri.blogspot.com/2013/10/tugas-3-manfaat-perencanaan-jenis_18.html?m=1. 18 Oktober 2013.
Muhammad Fathurrohman. “Pengawasan Sebagai Fungsi Manajemen”.  https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/29/pengawasan-dan-kontrol-sebagai-fungsi-manajemen/amp/.  2012.
M. Chazienul Ulum. Perilaku Organisasi Menuju Orientasi Pemberdayaan. Malang: UB Press. 2016.  
Thoha Miftah. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004.
Seravine.  “Konflik dalam Perilaku Organisasi”. http://tugaskuliahanakmanej.blogspot.com/2011/06/konflik-dalam-perilaku-organisasi.html?m=1. 11 juni 201.
Hasto Sudew.  Psikologi Perilaku Organisasi. Jakarta: PT. Revka Petra Media. 2014.
Anoraga.  Psikologi Industri dan Sosial. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya. 1995.
Dwi Indriyani.  “Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Kerja”. http://infoblog971.blogspot.com/2015/06/faktor-faktor-penentu-keberhasilan-kerja.html?m-1. 2015.
Hadari Nawawi. SDM Untuk Bisinis yang Kompetitif . Yogyakarta: Universitas gajahmada. 2001.
Jurnal Managemen.  “Manajemen Sumber Daya Manusia”.  Jurnal pembelajaran..
Shelmi. “Pemberdayaan Karyawan”. https;//www.google.com/amp/s/shelmi.wordpress.com/2009/05/08/pemberdayaan-karyawan/amp/. 2009.
Ad-Dimasyqi, Al-Imam Abdul Fida Ismail Ibnu Kasir. Tafsir Ibnu Katsir. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2005.
Al-Mahalli, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sinar Baru Algensindo. 2010.
Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. Tafsir Al-Maraghiy. Mesir: CV. Toha Putra. 1974.
Hamka. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas. 1984.
Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan). Jakarta: Widya Cahaya. 2011.
Kementerian Agama RI. Tafsir Ringkas. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. 2016.
Quthb, Sayyid. Fi Zhilalil Qur’an. Beirut: Darusy-Syuruq. 1992.
Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati. 2002.



[1] Wirawan, Evaluasi Teori, Mode, Standar, Aplikasi dan Profesi (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), hal 27.
[2] Hersey, Paul, Pendayaguaan Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga, 1995), hal 15.
[3] Rivai, Veithzal, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal 111
[4] Ibid, hal. 112
[5] Larry L. Cummings, “Toward Organizational Behavioral”, Academic of Management Raview., hal 92
[7] Avicenna, “Cara Memahami Masalah”,  https://lesprivatsurabaya .net/cara-memahami-persoalan-atau masalah/, 3 Mei 2018
[8] Thoha Miftah, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal 9
[9] Ibid, hal 16
[11] Muhammad Fathurrohman, “Pengawasan Sebagai Fungsi Manajemen”, https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/09/29/pengawasan-dan-kontrol-sebagai-fungsi-manajemen/amp/, 2012
[12] M. Chazienul Ulum, Perilaku Organisasi Menuju Orientasi Pemberdayaan, (Malang: UB Press, 2016), hal 25.
[13] Thoha Miftah, Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal 14
[14] M. Chazienul Ulum, Perilaku Organisasi Menuju Orientasi Pemberdayaan, (Malang: UB Press, 2016), hal 24.
[15] Seravine “Konflik dalam Perilaku Organisasi”, http://tugaskuliahanakmanej.blogspot.com/2011/06/konflik-dalam-perilaku-organisasi.html?m=1, 11 juni 2011
[16] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah ( Jakarta: Lantera Hati, 2002), hal 362.
[17] Hamka, Tafsir Al-Azhar (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 152.
[18] Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2003), hal. 116
[19] Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghy (Mesir: CV. Toha Putra, 1974), hal. 180.
[20] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an  (Jakarta: Gema Insani Press, 1992), hal. 285
[21] Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan tafsirnya (Jakarta: Widya Cahaya, 2011), hal. 488.
[22] Imam Jalaludin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2010), hal. 884.
[23] Kementrian Agama RI, Tafsir ringkas (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2016), hal. 637.
[25] Hasto Sudewo, Psikologi Perilaku Organisasi (Jakarta: PT. Revka Petra Media, 2014), hal. 21.
[26] Anoraga S, Psikologi Industri dan Sosial (Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1995), hal. 110
[27] Ibid, hal 112
[28] Dwi Indriyani, “Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Kerja”, http://infoblog971.blogspot.com/2015/06/faktor-faktor-penentu-keberhasilan-kerja.html?m-1, 2015
[29] Hadari Nawawi, SDM Untuk Bisinis yang Kompetitif (Yogyakarta: Universitas gajahmada, 2001), hal. 41
[30] Ibid, hal 209
[31] Jurnal Managemen, “Manajemen Sumber Daya Manusia”, Jurnal pembelajaran.,
hal. 10.
[32] Shelmi “Pemberdayaan Karyawan” https;//www.google.com/amp/s/shelmi.wordpress.com/2009/05/08/pemberdayaan-karyawan/amp/, 2009



No comments:

Post a Comment

ESSAY :  Andaikan saya mendapatkan amanah untuk mengelolah aset. Oleh: Abdul Deva Muhammad Eka Putra Andaikan saya mendapatkan a...